Film ‘CAPER’ Angkat Konsumerisme dan Penyalahgunaan Paylater di Kalangan Gen Z

Film ‘CAPER’ Angkat Konsumerisme dan Penyalahgunaan Paylater di Kalangan Gen Z

Produser sekaligus sutradara Surya Ardy Octaviand mengungkapkan film Check Out Sekarang PAYLATER (CAPER) menjadi produksi layar lebar perdana dari Scovi Films. Menurut Ardy, proyek ini bermula dari diskusi kreatif bersama penulis naskah dengan pendekatan yang berbeda dibanding format serialnya.

Ardy menjelaskan pengembangan film dilakukan melalui adaptasi bebas dengan memperluas isu utama yang diangkat, yakni Pinjaman Online (Pinjol). Ia mengatakan film ini diarahkan untuk membahas budaya konsumerisme dan penyalahgunaan layanan paylater di kalangan generasi muda urban.

“Isunya lebih besar, terus lebih kita mengarah kepada isu sosial. seperti konsumerisme di kalangan Gen Z. Saya melihat, apa namanya, ‘pay later’ itu banyak disalahgunakan untuk, apa namanya, konsumen, gaya hidup,” ujar Ardy dalam Press Conference Official Trailer & Official Poster film tersebut di Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (6/1/2026).

Ia menambahkan, fenomena gaya hidup dan flexing di media sosial turut mendorong lahirnya konflik dalam cerita. Karakter-karakter dalam film dikembangkan sebagai representasi masyarakat urban kelas bawah yang menghadapi tekanan sistem ekonomi.

Ardy menegaskan, cerita tidak dibangun dengan nada sedih, melainkan melalui humor dan bentuk perlawanan simbolik. Ia ingin karakter Gen Z dalam film tetap bergerak dan melawan sistem yang membelenggu mereka.

“Kita harus menertawakan nasib, dan melawan, sebagai orang-orang yang kalah, kita melawan sistem yang sudah ada. Jadi kita berusaha untuk sebagai karakter, sebagai perwakilan dari para Gen Z, supaya terus bergerak melawan sistem,” katanya.

Sementara itu, penulis naskah Widya Arifianti menyampaikan kegembiraannya dapat berproses kreatif bersama Scovi Films. Ia menilai Scovi menjadi ruang yang nyaman bagi para pembuat film muda untuk mengembangkan ide cerita.

Widya menjelaskan proses penulisan dilakukan melalui riset mendalam mengenai konsumerisme, Pinjol, dan media sosial. Ia juga menyebut pengalaman personal saat berada di titik terendah turut memengaruhi pendekatan cerita yang dipilih.

“Kita semua tuh sadar kalau kita pernah berada di titik nadir atau di titik nolnya masing-masing gitu. Tapi kita memutuskan untuk yaudah kita ketawain aja gitu, jadi membangun residensi, membangun ketangguhan lewat komedi,” ucapnya.