Film Qorin 2 Angkat Isu Perundungan dalam Teror Horor Supranatural

Film Qorin 2 Angkat Isu Perundungan dalam Teror Horor Supranatural

Film Qorin 2 menempatkan isu perundungan sebagai pemantik konflik, dibalut teror horor supranatural yang mencekam. Cerita berangkat dari kemarahan Makmur (Fedi Nuril), seorang tukang sampah, setelah mengetahui putranya, Jaya (Ali Fikry), menjadi korban perundungan di sekolah.

Makmur mendatangi SMA tempat Jaya bersekolah untuk meminta bantuan. Namun, upayanya diabaikan pihak sekolah dengan alasan menjaga nama baik institusi. Situasi itu membuat Makmur kian jengah, terlebih ketika ia berulang kali melihat Jaya pulang dengan seragam lusuh. Amarah dan keputusasaan yang menumpuk berubah menjadi dendam, hingga Makmur memilih jalan ekstrem: melakukan ritual pembangkitan jin qorin untuk menuntut balas.

Kasus yang menimpa Jaya kemudian sampai ke telinga Fitri Saraswati (Wavi Zihan), guru bimbingan konseling (BK) baru di sekolah. Berbeda dari sikap pihak sekolah sebelumnya, Fitri berniat membantu Jaya mencari jalan keluar. Dalam penyelidikannya, Fitri mencurigai lima murid sebagai pelaku perundungan: Dharma (Gilang Devialdy), Wahyu (Quentin Stanislavski), Fahri (Vincentius Jeremhia), Jaki (Ben Malaihollo), dan Rijal (Muzakki Ramdhan) yang juga adiknya sendiri.

Namun, upaya pengusutan Fitri justru mengantarkannya pada rangkaian kejadian ganjil. Ketegangan meningkat saat ia seolah melihat penampakan seseorang yang terbunuh secara mengenaskan, disusul perubahan perilaku orang-orang di sekitarnya yang terasa tidak wajar. Puncaknya, Fitri tanpa sengaja menyaksikan pembunuhan oleh sosok misterius berponco hitam—figur yang selama ini menebar teror di kampung tempat ia tinggal. Dari peristiwa itu, Fitri mulai menyadari ada kejanggalan besar yang tengah terjadi.

Di luar teror doppelganger alias jin qorin, film ini juga mencoba membingkai perundungan dari beragam sudut pandang. Makmur digambarkan berada di persimpangan antara amarah dan putus asa hingga mendorongnya bertindak di luar nalar. Jaya menanggung kesendirian yang berkepanjangan, sementara Fitri hadir dengan niat tulus yang kadang tampak naif.

Tokoh pendukung turut memperkaya gambaran persoalan perundungan. Dharma, misalnya, ditampilkan sebagai perundung yang perlakuannya terhadap Jaya diproyeksikan dari kekerasan yang ia terima di rumah. Meski perundungan tidak dapat dibenarkan, latar belakang Dharma digambarkan sebagai faktor yang mendorong tindakannya. Sementara itu, Wahyu—anak dari Ustad Fahmi yang dikenal sebagai “kiai kampung” dan dianggap alim—tetap menjadi bagian dari kelompok perundung. Karakter ini memberi penekanan bahwa perilaku buruk tidak selalu berkaitan langsung dengan latar belakang keluarga.

Dari sisi horor, Qorin 2 menonjolkan adegan-adegan berdarah sejak awal, mulai dari mata tercongkel, tusukan benda tajam, hingga potongan bagian tubuh manusia. Film produksi Rapi Films dan SL23 ini juga membawa elemen misteri seperti film pertamanya, meski aspek kemisteriusan yang membuka ruang pelintiran alur disebut tidak terlalu menonjol karena premis-premisnya cenderung cepat terjawab. Di sisi lain, pendekatan tersebut membuat film terasa lebih ringan untuk diikuti.

Sejumlah detail kecil turut menjadi penanda suasana. Salah satunya, bunyi alat musik karinding yang muncul dalam adegan ritual Makmur, menghadirkan dentingan sederhana yang mempertebal nuansa mencekam dengan warna lokal. Detail lain adalah siulan lembut dari sosok berponco hitam sesaat sebelum ia membunuh, yang berfungsi seperti isyarat bagi penonton bahwa teror akan kembali terjadi.