Aliansi sipil Indonesia kembali mengirimkan delegasi untuk mengikuti konvoi kapal laut menuju Gaza, setelah pada misi tahun lalu tidak berhasil menempatkan seluruh delegasi untuk ikut berlayar. Dalam konteks ini, istilah yang digunakan penulis adalah “gagal berlayar”, bukan “gagal menembus” blokade Israel, karena berlabuh di Gaza dipandang sebagai bonus dari misi yang sejak awal menyadari besarnya risiko.
Ukuran keberhasilan misi, menurut penulis, sederhana: kapal dapat berlayar menuju Gaza. Soal apakah armada dapat mencapai pantai Gaza atau tidak ditempatkan sebagai urusan berikutnya. Pesan utama yang ingin dibawa adalah bahwa warga sipil dunia tidak tinggal diam melihat penderitaan warga Gaza, bahkan ketika para pemimpin dunia memperhitungkan risiko politik dan keamanan dalam berhadapan dengan Israel.
Peluang menembus blokade
Meski kecil, peluang konvoi untuk dapat menembus blokade Israel disebut tetap ada. Penulis merujuk sejarah pada Agustus 2008, ketika dua kapal dari Free Gaza Movement, SS Liberty dan SS Free Gaza, berhasil berlabuh di Gaza. Kedua kapal kecil itu juga disebut dapat keluar dari Gaza dengan membawa sejumlah pasien untuk dirawat di luar.
Keberhasilan tersebut kemudian melatarbelakangi gagasan flotilla yang lebih besar. Pada Mei 2010, Free Gaza Movement menggandeng LSM Turki IHH Yardim Vakfi meluncurkan Freedom Flotilla yang diikuti enam kapal besar, termasuk Mavi Marmara. Misi itu berakhir dengan serangan Israel yang menewaskan 10 aktivis dan menyebabkan lebih dari 50 orang mengalami luka tembak. Penulis menyebut Israel mengerahkan ratusan pasukan komando, dua kapal selam, empat kapal fregat, dan tiga helikopter tempur.
Sejak peristiwa 2010 hingga artikel ini ditulis, penulis menyatakan belum ada misi konvoi kapal laut (flotilla) yang berhasil berlabuh di Gaza. Seluruhnya diintersep Israel, sementara aktivis ditahan dan kemudian dideportasi.
Tantangan dan situasi kawasan
Misi flotilla kali ini dikabarkan akan diikuti sekitar 100 kapal. Kapal-kapal tersebut disebut mulai berlayar pada pertengahan April dari Prancis dan Spanyol, dengan kemungkinan juga dari Italia dan Yunani. Armada direncanakan berkumpul di Turki pada awal Mei sebelum bertolak bersama menuju Gaza. Bahkan, disebut ada kapal yang berlayar dari Inggris menuju Laut Mediterania untuk bergabung.
Namun, penulis menilai situasi kawasan sedang memanas. Meski eskalasi perang Iran vs Amerika disebut menurun, Israel dinilai masih agresif menggempur Lebanon dengan dalih memaksa Hizbullah melucuti senjata. Di sisi lain, kapal-kapal tempur Israel disebut bersiaga membentuk garis blokade, dan pasukan Israel dipastikan siap mengintersep kapal yang datang.
Penulis juga menyebut bahwa dalam banyak kasus, Israel melakukan sabotase terhadap kapal-kapal peserta flotilla melalui operasi rahasia, bahkan saat armada berada jauh dari Gaza, seperti di Malta, Yunani, atau Siprus.
Sorotan transparansi setelah pengalaman tahun lalu
Penulis menyoroti kegagalan tahun lalu bukan sebagai kegagalan berlabuh di Gaza, melainkan kegagalan menempatkan 30 aktivis yang sudah dibawa ke Tunisia untuk ikut berlayar. Saat itu, koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) disebut menyampaikan bahwa pihaknya telah membeli lima kapal dengan harga masing-masing 100 ribu dolar AS.
Panitia menyatakan delegasi Indonesia tidak bisa ikut berlayar dari Tunisia karena kapal-kapal yang dibeli berada di pelabuhan Italia, Prancis, dan Yunani, sementara seluruh delegasi Indonesia berada di Tunisia. Alasan lain yang disebut adalah banyaknya peserta asing yang ingin ikut dari Tunisia, sehingga pihak Indonesia memberikan seluruh jatah kursi kepada peserta dari negara lain.
Seorang delegasi Indonesia kala itu dikutip mengatakan, “ikut berlayar bukan yang terpenting. Yang penting misi tersebut tetap berjalan.” Penyelenggara flotilla saat itu, Global Sumud Flotilla (GSF), disebut memuji sikap Indonesia yang dinilai mengalah dan dermawan dalam kontribusi keuangan.
Meski demikian, penulis menyebut ada tiga relawan Indonesia yang berlayar pada misi tersebut. Wanda Hamidah dan Muhammad Fathurrahman disebut mengalami kendala karena kapal rusak dan gagal melanjutkan pelayaran saat mencapai Italia. Sementara Muhammad Husein disebut menumpang kapal observer (pengamat) yang tugasnya memang tidak berlayar ke Gaza.
Status kapal dan rencana kontribusi tahun ini
Penulis mempertanyakan keberadaan lima kapal yang disebut dibeli tahun lalu: apakah masih ada dan apakah dapat digunakan untuk misi kali ini. Koordinator GPCI, Maimon Herawati, mengatakan tidak tahu apakah kapal-kapal itu bisa berlayar pada misi tahun ini. Menurut Maimon, kapal-kapal tersebut sudah dihibahkan kepada GSF selaku penyelenggara, sehingga pengelolaannya berada di bawah wewenang tim kapal global.
Untuk tahun ini, Maimon mengatakan Indonesia akan menyumbang 300 ribu dolar AS untuk membiayai tiga kapal, dan tiga kapal atau dana tersebut juga merupakan hibah untuk GSF. Saat ditanya apakah ada jaminan seluruh delegasi Indonesia bisa berlayar, Maimon menyebut persiapan tim Indonesia kali ini jauh lebih matang dibanding misi sebelumnya.
Penulis menyampaikan harapan agar seluruh delegasi Indonesia dapat berlayar menuju Gaza. Dari tiga kapal yang disumbangkan Indonesia, dua aktivis Indonesia—Maimon Herawati dan Chiki Fawzi—disebut telah berlayar dengan salah satu kapal yang berangkat dari Spanyol.
Desakan akuntabilitas dan pertanyaan publik
Penulis menilai, apabila kembali terjadi kegagalan mendapatkan kursi untuk berlayar, publik memerlukan penjelasan yang lebih komprehensif dan terdokumentasi guna menjaga akuntabilitas gerakan. Sejumlah pertanyaan mendasar disebut membutuhkan kejelasan demi transparansi dana publik, antara lain terkait kepastian lokasi pembelian kapal yang berbeda dengan titik kumpul delegasi, dokumentasi atau bukti administratif atas pembelian lima kapal pada misi tahun lalu, alasan kapal-kapal tersebut tidak digunakan kembali, serta urgensi penggalangan dana baru untuk pengadaan kapal pada misi kali ini.
Penulis juga menyebut telah menawarkan ruang kepada Maimon Herawati untuk memberikan klarifikasi dan berdiskusi di kanal Timteng Podcast agar isu-isu tersebut dapat dijelaskan secara terbuka kepada publik. Namun, hingga tulisan dipublikasikan, tawaran tersebut disebut belum mendapatkan jawaban.

