Kekerasan dan stabilitas finansial masih menjadi tantangan utama bagi pemeriksa fakta di berbagai negara. Isu tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Cek Fakta Internasional 2026, yang dirayakan setiap 2 April.
International Fact-Checking Network (IFCN) melaporkan, 65 persen pemeriksa fakta menghadapi kekerasan dan ancaman yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Angka itu berasal dari survei terhadap 141 organisasi di 71 negara yang merepresentasikan jaringan pemeriksa fakta internasional pada 2025.
Persentase kekerasan dan ancaman yang dialami pemeriksa fakta tercatat menurun dibandingkan 2024, ketika angkanya mencapai 78 persen. Namun, 24,1 persen responden menyatakan kekerasan yang mereka alami lebih intens dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini disebut memaksa para pemeriksa fakta melakukan perubahan pada operasional mereka.
Laporan tersebut dirilis bertepatan dengan Hari Pemeriksa Fakta Internasional. Peringatan ini pertama kali diluncurkan IFCN pada 2016 untuk merayakan sekaligus menyoroti peran pemeriksa fakta di seluruh dunia. Hari tersebut juga menandai inisiatif global yang bertujuan menekankan pentingnya informasi yang akurat di dunia yang saling terhubung.
Selain persoalan keamanan, tantangan lain yang menonjol adalah pendanaan. Pada tahun ini, 81 persen organisasi pemeriksa fakta menyatakan pendanaan dan stabilitas finansial masih menjadi tantangan terbesar.
Sepanjang 2025, survei IFCN mencatat sejumlah tantangan yang dihadapi organisasi pemeriksa fakta, yakni pendanaan dan stabilitas finansial (89,1 persen), staf dan keahlian (37,2 persen), akses teknologi atau alat (30,7 persen), akses ke data dan sumber terpercaya (19 persen), kekerasan dan masalah keamanan (19 persen), hambatan legal dan regulasi (11,7 persen), serta tantangan lainnya (5,8 persen).

