Hoaks terkait tautan cek status bantuan sosial (bansos) online kembali bermunculan di media sosial. Informasi menyesatkan ini disebarkan oleh oknum tidak bertanggung jawab dan kerap digunakan sebagai modus penipuan, memanfaatkan kemudahan akses informasi digital untuk menjerat korban.
Cek Fakta Liputan6.com menemukan sejumlah unggahan yang mengklaim menyediakan link untuk mengecek atau mendaftar bansos, namun mengarahkan pengguna ke situs tertentu yang meminta data pribadi.
Salah satu klaim yang beredar menyebut adanya link untuk mengecek status bansos Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang diklaim cair pada Maret–April 2026. Klaim tersebut diunggah oleh sebuah akun Facebook sejak 26 Maret 2026, disertai narasi bahwa bansos menjadi kabar yang ditunggu jutaan keluarga penerima manfaat dan disebut sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga berpenghasilan rendah.
Unggahan itu juga menampilkan poster bertuliskan “Digitalisasi Bansos Mulai Maret 2026” serta ajakan untuk mengecek nama dengan cara “klik daftar”. Terdapat menu pendaftaran yang, ketika diklik, mengarah ke halaman situs berisi formulir digital. Di halaman tersebut, pengguna diminta mengisi data pribadi, termasuk nama lengkap dan nomor Telegram.
Selain itu, Cek Fakta Liputan6.com juga mendapati klaim tautan untuk mengecek penerima bansos jelang Ramadan 2026. Informasi ini diunggah oleh akun Facebook pada 5 Februari 2026 dengan narasi “Bansos jelang ramadhan 2026 cair! Daftar bantuan PKH Rp.1.500.000 dan cara cek penerimanya klik daftar👇”. Unggahan tersebut disertai poster bertuliskan “Bansos Februari 2026 Cair! Ini Daftar Bantuan Sosial dan Cara Cek Penerimanya”.
Dalam unggahan itu, menu “daftar” mengarahkan pengguna ke sebuah tautan yang membuka halaman situs dengan tampilan formulir digital. Situs tersebut meminta sejumlah data pribadi, seperti nama lengkap sesuai KTP hingga nomor Telegram.
Maraknya tautan semacam ini menunjukkan pola yang serupa: unggahan mengiming-imingi informasi pencairan atau pengecekan bansos, lalu mengarahkan pengguna ke formulir yang meminta data pribadi. Masyarakat diimbau lebih waspada terhadap tautan yang beredar di media sosial, terutama yang meminta informasi sensitif.

