Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak pemerintah membuka transparansi anggaran pembagian paket sembako pada peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di kawasan Monas, Jakarta. ICW menilai publik berhak mengetahui detail penggunaan dana, terutama karena kegiatan tersebut disebut menggunakan anggaran Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg).
Desakan itu disampaikan Kepala Divisi Hukum dan Investigasi ICW, Wana Alamsyah, saat mendatangi Kemensetneg pada Senin (4/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia menyerahkan surat permohonan keterbukaan informasi terkait anggaran sembako tahun 2025 dan 2026.
Menurut Alamsyah, ICW memandang masih ada ketertutupan informasi mengenai anggaran belanja sembako. Ia menyinggung pembagian sembako pada May Day 1 Mei 2026 di Monas, yang informasinya diketahui bersumber dari anggaran Kemensetneg.
ICW juga mencatat sedikitnya empat kegiatan pembagian sembako dan bazar oleh pemerintah sejak 2025 hingga 2026. Namun, berdasarkan penelusuran yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir, ICW menyebut belum menemukan postur anggaran resmi yang menjelaskan sumber pendanaan untuk pembelian atau pembiayaan sembako dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
ICW menilai keterbukaan informasi diperlukan untuk mencegah potensi penyalahgunaan anggaran. Mereka merujuk pentingnya prinsip transparansi dan akuntabilitas, serta ketentuan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Selain itu, ICW menilai pembagian sembako di ruang publik berpotensi tidak tepat sasaran dan berisiko bergeser menjadi kegiatan seremonial.
Dalam konteks May Day 2026, paket sembako disebut disediakan oleh dua BUMN, yakni Perum Bulog dan ID FOOD. Untuk Bulog, terdapat 350 ribu paket sembako yang didistribusikan. Seorang perwakilan Bulog bernama Rizal menyatakan bahwa anggaran kegiatan tersebut berasal dari Kemensetneg, sementara Bulog hanya menyiapkan paket.
Nilai paket sembako tersebut ditaksir mencapai sekitar Rp135.050 per paket jika dihitung dari harga eceran produk ritel modern. Dengan jumlah 350.000 paket, total nilainya diperkirakan sekitar Rp47.267.500.000 atau Rp47,3 miliar.
Perkiraan anggaran dapat meningkat apabila memasukkan biaya kemasan dan logistik. Jika biaya kemasan berupa string bag dihitung sekitar Rp5.000 hingga Rp15.000 per unit, maka untuk 350.000 paket, anggaran kemasan bisa mencapai sekitar Rp5,2 miliar. Jika ditambahkan dengan nilai paket sembako, totalnya menjadi sekitar Rp52,5 miliar, belum termasuk ongkos kirim dan biaya logistik seperti penggunaan truk pengangkut.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebut sekitar 400.000 buruh menghadiri May Day 2026. Dengan asumsi 350.000 buruh menerima paket dari Bulog, sisa 50.000 lainnya disebut memperoleh paket dari ID FOOD. Dengan demikian, total anggaran keseluruhan berpotensi lebih besar dari Rp52,5 miliar, tergantung komponen biaya tambahan yang digunakan.
ICW menegaskan, pembagian sembako dalam skala besar semestinya disertai transparansi penuh. Di tengah dugaan nilai anggaran yang mencapai puluhan miliar rupiah, ICW menilai masyarakat berhak mengetahui sumber dan penggunaan dana tersebut sesuai prinsip keterbukaan informasi.

