Kota Gorontalo—Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui program Oceans for Prosperity Project–LAUTRA Tahun Anggaran 2025, menggelar penjangkauan stakeholder berupa kegiatan peningkatan pelibatan perempuan dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Gorontalo, Selasa (16/12/2025).
Kegiatan ini diikuti 25 peserta yang mewakili kelompok wanita pesisir, KOMPAK, POKDARWIS, POKMASWAS, serta aparat desa perempuan di wilayah Kawasan Konservasi Perairan Teluk Gorontalo.
Sejumlah narasumber turut hadir, antara lain perwakilan dari SUOP Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Gorontalo, Dinas Pemberdayaan Perempuan Provinsi Gorontalo, LPPM Universitas Gorontalo, PSDKP Bitung, serta BPSPL Makassar.
Kepala DKP Provinsi Gorontalo, Sila N. Botutihe, menyatakan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Gorontalo menjadi momentum strategis untuk memperkuat keterlibatan masyarakat secara inklusif. Ia menjelaskan kawasan konservasi seluas 76.580,48 hektare tersebut ditetapkan melalui keputusan menteri dan memiliki peran penting bagi pelestarian ekosistem laut dengan keanekaragaman hayati, seperti terumbu karang, ikan napoleon, penyu, hingga jalur migrasi mamalia laut.
Menurutnya, salah satu elemen krusial dalam pengelolaan kawasan konservasi adalah partisipasi masyarakat lokal dalam proses perencanaan, pengawasan, dan pemanfaatan sumber daya laut. Partisipasi itu tidak hanya terbatas pada laki-laki, tetapi juga perempuan yang selama ini memiliki peran penting dalam pemanfaatan hasil laut dan kegiatan ekonomi pesisir.
Dalam konteks konservasi dan pembangunan berkelanjutan, pelibatan perempuan dinilai semakin relevan. Sejumlah penelitian dan kajian disebut menunjukkan perempuan pesisir di Gorontalo aktif dalam kegiatan produksi dan organisasi masyarakat, termasuk budidaya rumput laut, yang berkontribusi secara ekonomi sekaligus memperkuat posisi perempuan dalam pengelolaan sumber daya pesisir.
Sila menambahkan, praktik konservasi yang inklusif gender dinilai dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya. Pendekatan yang mengintegrasikan kesetaraan gender dan inklusi sosial, katanya, membuka ruang bagi perempuan untuk dilatih, diberdayakan, serta dilibatkan aktif dalam kegiatan teknis, pemasaran hasil laut, hingga pengambilan keputusan di tingkat komunitas.

