Klaim Ekonomi Indonesia Tumbuh 8 Persen Berkat MBG di Tengah Perang Disebut Keliru

Klaim Ekonomi Indonesia Tumbuh 8 Persen Berkat MBG di Tengah Perang Disebut Keliru

Sebuah unggahan akun TikTok Prabgemoy menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus 8 persen di tengah perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. Dalam video berdurasi 29 detik yang diunggah pada 15 Maret 2026, narasi yang disampaikan menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi motor utama lonjakan pertumbuhan ekonomi tersebut.

Namun, klaim itu dinilai tidak didukung data resmi. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Teuku Riefky, menjelaskan bahwa angka pertumbuhan ekonomi Indonesia dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) secara berkala per kuartal. Menurut dia, data pertumbuhan ekonomi untuk kuartal I-2026 baru akan diumumkan pada awal Mei 2026.

Dengan demikian, pada Maret 2026 belum ada rilis pertumbuhan ekonomi resmi dari BPS. Teuku menyebut jadwal rilis berikutnya biasanya pada 5 Mei 2026.

Adapun data terakhir yang dipublikasikan BPS pada 5 Februari 2026 mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal IV-2025. Angka tersebut berada jauh di bawah klaim pertumbuhan 8 persen yang beredar di media sosial.

Di tengah gejolak perang yang pecah sejak 28 Februari, sejumlah proyeksi justru memperkirakan adanya tekanan terhadap perekonomian. Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,8 persen sepanjang 2026.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6 persen pada 2026. Proyeksi tersebut juga masih di bawah klaim 8 persen.

Sebelumnya, pemerintah pernah menyampaikan optimisme target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2026. Pernyataan itu disampaikan utusan khusus presiden untuk iklim dan energi Hashim Djojohadikusumo dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2025 di Hotel The Westin Jakarta pada 26 Februari 2025. Dalam kesempatan itu, MBG disebut sebagai salah satu program yang diharapkan mendongkrak pencapaian target.

Program MBG mulai diimplementasikan pada 6 Januari 2025. Menurut Badan Gizi Nasional, penerima MBG mencapai 55,1 juta siswa yang dilayani oleh 19.188 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 38 provinsi. Hingga akhir 2025, realisasi anggaran program ini tercatat Rp51,5 triliun atau 72,5 persen dari pagu Rp71 triliun dalam APBN 2025.

Meski demikian, sejumlah ekonom meragukan MBG dapat memberikan dampak cepat dan besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Teuku Riefky menilai program tersebut berpotensi mematikan ekosistem kantin sekolah yang selama ini menopang ekonomi lokal. Ia berpendapat keuntungan terbesar justru berputar pada pemilik SPPG di wilayah perkotaan. Menurut Teuku, MBG tidak menumbuhkan ekonomi baru dan berisiko memperlebar kesenjangan ekonomi.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga, Rossanto Dwi Handoyo, juga meragukan efek instan MBG terhadap pertumbuhan yang ambisius. Ia menjelaskan kontribusi belanja pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih relatif kecil, sementara PDB Indonesia lebih didominasi konsumsi rumah tangga dan investasi. Rossanto memperkirakan program makan gratis hanya memberi dampak terbatas terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan estimasi daya ungkit sekitar 0,1 hingga 0,3 persen.

Berdasarkan penelusuran dan keterangan para ahli, klaim bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 8 persen pada Maret 2026 berkat MBG di tengah konflik geopolitik dinilai keliru karena tidak sesuai dengan data resmi maupun proyeksi yang tersedia.