Klaim Vaksinasi HPV Membahayakan Anak Beredar di Media Sosial, Pakar Tegaskan Bukan Produk Uji Coba

Klaim Vaksinasi HPV Membahayakan Anak Beredar di Media Sosial, Pakar Tegaskan Bukan Produk Uji Coba

Sebuah konten di Instagram yang beredar pada 17 Februari 2026 memuat klaim bahwa pemberian vaksin Human Papillomavirus (HPV) kepada anak-anak menjadikan mereka “kelinci percobaan” dan membahayakan nyawa. Unggahan itu menampilkan tangkapan layar berita Kompas.com tentang rencana pemberian vaksin HPV kepada anak laki-laki usia 11 tahun pada 2027, lalu mengaitkannya dengan cuplikan video seorang pria yang menolak vaksinasi. Pemilik akun juga menuliskan narasi bahwa Indonesia termasuk negara uji coba pertama untuk vaksin kanker dan TBC.

Hasil pemeriksaan fakta menunjukkan klaim tersebut keliru. Pemberian vaksin HPV bertujuan melindungi anak dari kanker, bukan membahayakan nyawa mereka.

Cuplikan video yang disertakan dalam unggahan itu juga tidak berkaitan dengan vaksin HPV. Video tersebut memperlihatkan aksi seorang pria menolak vaksinasi pada 27 Januari 2022, ketika ia berunjuk rasa di gedung Kementerian Kesehatan untuk menentang kewajiban vaksinasi Covid-19. Sementara itu, tangkapan layar berita Kompas.com yang digunakan dalam unggahan menyebutkan rencana vaksinasi HPV pada anak laki-laki ditujukan untuk memperluas perlindungan terhadap penularan virus yang menjadi penyebab utama kanker leher rahim.

Epidemiolog dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa pengembangan vaksin HPV telah melalui proses panjang sesuai standar internasional. Ia menyebut riset vaksin dimulai dari tahap praklinis, uji laboratorium, pengujian pada hewan, hingga uji klinis fase satu sampai empat yang melibatkan ribuan peserta sebelum digunakan luas di masyarakat.

Dicky juga menyatakan penggunaan vaksin HPV pertama telah disetujui sejak 2006 oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), European Medicine Agency, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). “Artinya, vaksin ini sudah layak dan aman digunakan secara global. Bukan produk eksperimental lagi,” kata Dicky kepada Tempo pada 23 Februari 2026.

Menurut Dicky, lebih dari 125 negara telah memasukkan vaksin HPV ke dalam program imunisasi nasional. Berbagai riset menunjukkan penurunan signifikan pada infeksi HPV, termasuk kutil kelamin, lesi prakanker serviks, serta kanker serviks pada usia muda.

Peneliti dan virolog dari Universitas Airlangga (UNAIR), Arif Nur Muhammad Ansori, menjelaskan vaksin HPV diberikan pada anak usia sekolah dasar, umumnya rentang 9–13 tahun, untuk memperoleh perlindungan maksimal sebelum mereka berisiko terpapar virus di masa depan. Ia menyebut studi imunogenisitas menunjukkan respons imun anak pada rentang usia tersebut lebih kuat dan stabil dibandingkan orang dewasa, sehingga proteksi jangka panjang dapat terbentuk lebih optimal dengan dosis lebih sedikit. “Upaya ini adalah strategi preventif yang telah teruji secara global untuk memutus rantai penularan virus Human Papillomavirus (HPV) sejak dini,” kata Arif.

Sejumlah riset juga menegaskan efektivitas vaksin HPV dalam menurunkan risiko kanker. Vaksin HPV pertama dikembangkan pada 1990-an oleh peneliti di Australia dan diperkenalkan pada 2006 untuk melawan empat jenis virus HPV utama. Vaksin generasi berikutnya yang diperkenalkan pada 2014 memperluas cakupan perlindungan terhadap jenis HPV penyebab kanker tambahan.

Dalam uji klinis acak berskala besar, vaksinasi sejak dini dilaporkan dapat mengurangi risiko perubahan sel serviks yang serius hingga 99 persen untuk tipe HPV yang paling sering menyebabkan kanker serviks. Di Inggris, kelompok usia muda yang menerima vaksin di sekolah menunjukkan tingkat kanker serviks jauh lebih rendah dibandingkan kelompok usia lebih tua saat mencapai usia yang sama. Pada kelompok termuda dengan tingkat vaksinasi 89 persen, tingkat kanker serviks sekitar 87 persen lebih rendah dibandingkan kelompok usia tertua. Penurunan serupa juga dilaporkan terjadi di negara lain dengan cakupan vaksinasi tinggi.

Di sisi lain, tingkat vaksinasi HPV di sejumlah negara Afrika dan Asia Tenggara masih rendah. Padahal, proyeksi oleh Kate T. Simms dan rekan-rekannya menyebutkan bahwa bila cakupan vaksinasi mencapai 80–100 persen untuk anak laki-laki dan perempuan, ditambah vaksinasi untuk dewasa, program tersebut berpotensi mencegah hampir 50 juta kasus kanker serviks hingga tahun 2100.

Dengan demikian, klaim bahwa vaksinasi HPV pada anak-anak merupakan uji coba yang membahayakan nyawa tidak didukung fakta. Vaksin HPV telah melalui tahapan pengujian dan persetujuan otoritas kesehatan, serta digunakan luas sebagai langkah pencegahan kanker yang telah teruji secara global.