Komisi IV DPR Nilai Ketahanan Pangan di Papua Perlu Sesuaikan Budaya Konsumsi Sagu

Komisi IV DPR Nilai Ketahanan Pangan di Papua Perlu Sesuaikan Budaya Konsumsi Sagu

Komisi IV DPR RI menilai pengembangan ketahanan pangan di Papua menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis dan regulasi, tetapi juga dipengaruhi faktor kultural masyarakat setempat.

Anggota Komisi IV DPR RI Guntur Sasono mengatakan, Papua memiliki potensi pertanian yang tinggi. Namun, preferensi masyarakat terhadap pangan lokal seperti sagu perlu menjadi pertimbangan utama dalam perumusan kebijakan pangan.

“Produksi padi bisa melimpah, tapi masyarakat Papua lebih memilih makan sagu. Ini bukan sekadar soal produksi, tapi soal kebiasaan dan budaya makan,” ujar Guntur, dikutip dari Parlementaria, di sela-sela Kunjungan Kerja Reses Komisi IV di Jayapura, Papua, Jumat (31/10).

Menurutnya, kebijakan pangan nasional perlu adaptif terhadap karakteristik budaya lokal agar program ketahanan pangan dapat diterima dan berkelanjutan. Ia menekankan pendekatan yang menghormati pangan lokal serta tidak menyeragamkan program pangan di seluruh daerah.

“Ini butuh pendekatan budaya. Program pangan tidak bisa diseragamkan. Kita harus hormati pangan lokal dan menjadikannya bagian dari sistem pangan nasional,” katanya.

Guntur juga menilai produksi sagu di Papua sebenarnya cukup tinggi, tetapi belum dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Karena itu, Komisi IV mendorong pemerintah agar lebih serius mengembangkan sagu sebagai komoditas strategis nasional.

“Pangan lokal seperti sagu adalah pangan masa depan. Kita harus menjadikannya sumber kehidupan dan kebanggaan masyarakat Papua,” ujarnya.