Jaringan Pemeriksa Fakta Internasional (International Fact-Checking Network/IFCN) merilis Laporan Tahunan Pemeriksa Fakta menjelang peringatan Hari Cek Fakta Internasional pada 2 April 2026. Laporan tersebut merangkum temuan dari organisasi pemeriksa fakta di berbagai negara berdasarkan survei yang dilakukan sepanjang 2025.
Dalam laporan itu, IFCN mencatat 65% pemeriksa fakta dilaporkan mengalami pelecehan atau tekanan saat menjalankan pekerjaannya. Angka ini menurun dibanding 2024 yang mencapai 78%. Meski demikian, laporan juga menunjukkan 24,1% organisasi pemeriksa fakta mengalami tekanan yang meningkat hingga memaksa perubahan dalam operasional mereka.
Survei ini melibatkan 141 organisasi dari 71 negara, yang disebut merepresentasikan 77,5% anggota IFCN.
Selain isu tekanan terhadap pekerja pemeriksa fakta, laporan juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam alur kerja. Lebih dari 53% organisasi cek fakta menyatakan telah menggunakan AI, dengan mayoritas (77,4%) memanfaatkannya untuk riset dan menggali informasi. Sebanyak 55,5% menggunakan AI untuk penerjemahan, sementara 37,2% memakainya untuk produksi konten.
Di sisi lain, pendanaan dan keberlangsungan organisasi disebut menjadi tantangan terbesar pada 2025. Tantangan lain yang turut muncul mencakup akses terhadap teknologi, akses ke data, serta isu keamanan.
IFCN juga melaporkan 62% organisasi pemeriksa fakta mengalami peningkatan audiens. Untuk menjangkau audiens baru, video berformat pendek dan video penjelasan menjadi pendekatan yang paling dominan digunakan.

