Ancaman krisis energi global yang dipicu konflik geopolitik berkepanjangan dinilai menjadi tantangan serius bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PKS, Nevi Zuairina, menekankan pentingnya memperkuat kesadaran publik agar masyarakat memahami situasi tanpa terjebak kepanikan.
Nevi mengapresiasi komitmen pemerintah yang menyatakan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir 2026. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang belum menunjukkan tanda mereda.
Namun, ia menilai kebijakan itu perlu diiringi komunikasi publik yang transparan, sederhana, dan mudah dipahami. “Komitmen ini patut diapresiasi, namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana pemerintah mampu menghadirkan komunikasi publik yang transparan, sederhana, dan mudah dipahami masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (12/4/2026).
Nevi menjelaskan, strategi komunikasi menjadi kunci dalam mitigasi krisis energi. Pemerintah, menurutnya, perlu menyampaikan secara terbuka penyebab krisis—termasuk gangguan pasokan global akibat konflik—dampaknya terhadap Indonesia, serta langkah-langkah yang telah dan akan diambil.
Selain komunikasi, ia juga menyoroti pentingnya pelibatan berbagai elemen masyarakat untuk membangun kesadaran energi. Tokoh masyarakat, generasi muda, hingga influencer dinilai memiliki peran strategis dalam mengampanyekan gaya hidup hemat energi secara luas.
Nevi mengingatkan dampak konflik global terhadap sektor energi bersifat serius dan sistemik. Gangguan jalur distribusi minyak dan gas, keterbatasan ekspor dari negara produsen, serta fluktuasi harga energi berpotensi memicu kenaikan harga BBM, tarif listrik, dan biaya logistik. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat mendorong inflasi dan menambah beban subsidi dalam APBN.
“Efeknya memang tidak selalu langsung terlihat, tetapi dampaknya bisa sangat luas terhadap perekonomian nasional,” jelasnya.
Dalam menghadapi situasi itu, Nevi menegaskan peran masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan mitigasi krisis. Ia mengajak masyarakat memulai dari langkah sederhana, seperti menghemat penggunaan energi di rumah dan mengubah pola pikir dari konsumtif menjadi sadar energi.
“Selama ini energi sering dianggap selalu tersedia. Padahal, energi itu terbatas dan memiliki konsekuensi ekonomi yang besar. Karena itu, ketahanan energi harus menjadi gerakan bersama,” tuturnya.

