JAKARTA — Partisipasi publik dalam pemilu dan pemilihan kepala daerah (pilkada) belakangan terus menurun. Penurunan ini dinilai berkaitan dengan kekecewaan masyarakat terhadap kinerja dan perilaku elite politik.
Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Andrinof A Chaniago mengatakan masyarakat semakin apatis karena kehilangan kepercayaan terhadap praktik demokrasi yang dijalankan para politisi.
Menurut Andrinof, penurunan partisipasi terlihat dari tingkat keikutsertaan warga dalam pemilu dan pilkada yang terus menurun. Ia menilai hal itu terjadi karena produk demokrasi dinilai rendah.
Ia menyebut kerja dan perilaku partai politik serta politisi dianggap tidak sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi masyarakat. Selain itu, ia juga menyoroti maraknya perilaku menyimpang dari sejumlah politisi, seperti korupsi, persoalan moral, maupun kinerja yang rendah.
Andrinof menilai kondisi tersebut berbahaya karena dapat menurunkan legitimasi politik rakyat terhadap hasil demokrasi. Di saat yang sama, kekuatan masyarakat sebagai kelompok penekan terhadap partai dan politisi turut melemah. Tanpa kontrol yang kuat, elite politik berpotensi berperilaku semaunya dan bekerja asal-asalan.
Untuk memperbaiki keadaan, Andrinof mendorong kerja sama antara partai politik, Komisi Pemilihan Umum (KPU), pemerintah, dan kelompok masyarakat sipil. Partai politik dinilai perlu membenahi rekrutmen serta meningkatkan kualitas kerja untuk rakyat.
Sementara itu, KPU dan pemerintah diharapkan memperkuat sosialisasi mengenai hak pilih, makna pemilu, dan pentingnya menggunakan hak suara. Ia juga menekankan peran kelompok masyarakat sipil untuk terus mengembangkan pendidikan pemilih.

