Pemkab Tanjabbar Minta RSUD KH Daud Arif Transparan Usai Dokter Magang Myta Aprilia Azmy Meninggal

Pemkab Tanjabbar Minta RSUD KH Daud Arif Transparan Usai Dokter Magang Myta Aprilia Azmy Meninggal

Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Jambi, meminta manajemen RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal bersikap transparan terkait meninggalnya dokter magang (internship) dr Myta Aprilia Azmy. Permintaan itu disampaikan menyusul munculnya berbagai dugaan mengenai kondisi kerja almarhumah selama menjalani penugasan.

Wakil Bupati Tanjabbar Katamso SA menegaskan pentingnya keterbukaan informasi dalam penanganan kasus tersebut. Ia meminta Direktur Utama RSUD segera menindaklanjuti persoalan ini sesuai aturan dan tidak menutup-nutupi informasi.

"Saya meminta kepada Dirut RSUD untuk segera tindak lanjut sesuai aturan dan transparan. Jangan ada yang ditutup-tutupi," ujar Katamso, Sabtu (2/5/2026).

Dr Myta Aprilia Azmy meninggal pada Jumat (1/5/2026) setelah sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUP Dr Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, Sumatera Selatan. Permintaan transparansi dari Pemkab Tanjabbar muncul seiring berkembangnya dugaan bahwa dr Myta tetap diminta bekerja meski dalam kondisi sakit.

Dugaan tersebut memicu perhatian publik dan desakan agar penyebab kematian diusut secara menyeluruh. Katamso juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya dr Myta.

"Kami pribadi mengucapkan belasungkawa atas wafatnya almarhumah," katanya.

Direktur RSUD KH Daud Arif, Sahala Simatupang, mengatakan pihak rumah sakit telah memanggil sejumlah pihak untuk dimintai keterangan, termasuk dokter yang disebut sering berkomunikasi dengan almarhumah. Berdasarkan penelusuran awal, ia menyebut dr Myta telah lama mengalami gangguan kesehatan berupa batuk disertai sesak napas.

"Sudah lama sakitnya. Dia itu masuk rumah sakit 11 Maret," kata Sahala.

Terkait dugaan perundungan atau tekanan kerja berlebih, Sahala membantah adanya praktik tersebut di lingkungan rumah sakit. Ia menyebut sudah memanggil dokter dan Komite Medik untuk dimintai keterangan.

"Kalau di- bully, itu tidak benar. Saya sudah panggil dokter. Komite medik juga sudah saya panggil. Semua saya panggil," ujarnya.

Di sisi lain, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sumatera Selatan menyatakan turut memberikan perhatian serius terhadap kasus ini. Organisasi profesi tersebut menyampaikan duka cita sekaligus menyoroti laporan terkait kondisi kerja dr Myta.