Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali menjadi sorotan terkait gaya bicaranya yang dikenal lantang dan tegas. Ucapannya yang kerap keras dinilai sebagian pihak bisa menyinggung, meski ada pula yang menganggapnya sebagai karakter kepemimpinan.
Terbaru, pernyataan Ahok mengenai kenakalan pelajar memunculkan pro dan kontra. Ahok menyebut pelajar nakal yang kerap membuat onar, brutal, dan terus mengulang kesalahan sebagai “calon bajingan”.
Menanggapi hal tersebut, pakar psikologi politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk menilai gaya bicara Ahok tidak menjadi persoalan selama ditujukan untuk bekerja demi kepentingan masyarakat. Menurut Hamdi, gaya tersebut sudah melekat pada kepemimpinan Ahok dan banyak pihak tetap mendukungnya.
“Itu memang sudah menjadi gaya kepemimpinannya. Toh banyak orang yang mendukung, dan nggak masalah dengan mulut Ahok seperti itu,” kata Hamdi saat dihubungi di Jakarta, Jumat (15/11/2013).
Hamdi menilai ucapan keras yang kerap disampaikan Ahok pada dasarnya memiliki maksud yang baik. Ia menyebut Ahok menyampaikan hal tersebut sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat.
“Maksud Ahok kan baik. Dia melakukan itu dalam rangka sayang,” ujar Hamdi.
Hamdi juga menambahkan, Ahok dinilai tidak takut dengan konsekuensi dari pernyataannya. Ia menyinggung bahwa Ahok pernah menyatakan siap diturunkan dari jabatannya sebagai wakil gubernur apabila warga tidak menyukai ucapannya.
“Kalau dia sebel, dia memang blak-blakan. Dia nggak pernah dibikin santun. Itu nggak masalah. Dia melakukan itu untuk rakyat, bukan untuk kepentingan sendiri,” jelas Hamdi.
Pandangan berbeda disampaikan Komisioner Satuan Tugas Perlindungan Anak (Satgas PA) M Ihsan. Ia menilai pernyataan Ahok yang menyebut pelajar nakal sebagai “calon bajingan” tidak pantas disampaikan oleh seorang pemimpin.
“Saya kaget ketika membaca pernyataan Ahok sebagai Wagub DKI Jakarta, yang perlu diketahui bahwa tidak ada orangtua manapun dapat menerima kalau anaknya disebut calon bajingan oleh Ahok,” ujar Ihsan dalam keterangan pers.
Sebelumnya, Ahok juga pernah melontarkan pernyataan tajam kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dalam polemik terkait Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli. Saat itu, Ahok meminta Mendagri belajar konstitusi karena menilai permintaan untuk memindahkan Lurah Susan tidak tepat.
“Menurut saya, Mendagri perlu belajar tentang konstitusi. Ini negara Pancasila. Bukan ditentukan oleh orang tolak, tidak tolak,” kata Ahok di kawasan Monas, Jumat (27/9/2013).

