Donald Trump melontarkan pernyataan keras yang menyasar media dan Iran dalam sebuah narasi yang menekankan klaim kemenangan. Ia menyebut “media berita palsu” sebagai “musuh nyata rakyat” dan menolak anggapan bahwa ekonomi mengalami kesulitan karena biaya perang. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan, “lihatlah Iran—Iran hancur, Iran tamat karena saya,” seraya menuduh media tidak mau melaporkan apa yang ia sebut sebagai kemenangan.
Pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai contoh retorika politik yang bekerja seperti sales pitch: alih-alih menanggapi perdebatan dengan data teknis, narasi yang ditawarkan adalah “produk” berupa gambaran kemenangan mutlak. Di tengah pembahasan para ekonom mengenai pembengkakan defisit anggaran dan risiko fiskal akibat ongkos perang, pendekatan semacam ini menggeser perhatian publik dari angka dan laporan ke cerita yang lebih mudah dicerna.
Dalam pola komunikasi yang menyerupai pemasaran, fokus utama bukan pada rincian atau spesifikasi, melainkan pada solusi terhadap rasa takut. Mekanisme yang digunakan kerap mengikuti pola klasik Problem-Agitate-Solve: membangun kesan adanya masalah, memperkuat kecemasan, lalu menawarkan penyelesaian cepat. Narasi ancaman eksternal dapat menciptakan rasa genting, sementara klaim seperti “Iran sudah hancur karena saya” berfungsi sebagai janji hasil yang tegas dan instan.
Dampaknya, perhatian publik berpotensi bergeser. Ketika emosi diarahkan pada sensasi kemenangan atau kehancuran musuh, isu seperti inflasi, utang, atau konsekuensi fiskal dapat terasa kurang mendesak untuk dibahas, meskipun sebelumnya menjadi pokok kekhawatiran dalam laporan ekonomi.
Aspek lain yang ditekankan dalam pernyataan Trump adalah personalisasi kepercayaan. Dengan menyebut media sebagai “musuh rakyat”, ia tidak hanya mengkritik pemberitaan, tetapi juga mendorong publik untuk meragukan pihak yang menyampaikan informasi. Dalam kerangka sales pitch, ini dapat dipahami sebagai upaya mengalihkan kepercayaan dari sistem—seperti lembaga riset, data pemerintah, dan jurnalisme—kepada figur individu. Ketika sumber informasi dianggap tidak kredibel, data yang disajikan berisiko ditolak bukan karena isinya, melainkan karena siapa yang membawanya.
Situasi ini memunculkan konsekuensi yang lebih luas terhadap cara publik memposisikan diri dalam demokrasi. Alih-alih sebagai warga negara yang menimbang kebijakan melalui deliberasi dan proses yang matang, publik dapat terdorong menjadi “konsumen” narasi politik yang mengejar kepuasan instan. Dalam logika konsumen, proses yang rumit—misalnya pengelolaan fiskal—cenderung kalah menarik dibanding janji hasil akhir yang sederhana: “kemenangan”, “kejayaan”, atau “kehancuran musuh”.
Dengan demikian, pernyataan Trump tidak hanya memuat serangan terhadap media dan klaim keberhasilan terhadap Iran, tetapi juga menggambarkan bagaimana retorika politik dapat dirancang layaknya strategi pemasaran: membentuk emosi, mengatur fokus perhatian, dan membangun loyalitas pada figur sebagai pusat kebenaran.

