Rock In Solo 2025 Usung Isu Sosial-Lingkungan di Tengah Festival Musik Keras

Rock In Solo 2025 Usung Isu Sosial-Lingkungan di Tengah Festival Musik Keras

SOLO — Festival musik metal Rock In Solo (RIS) 2025 yang digelar di Benteng Vastenburg, Solo, pada Sabtu–Minggu (22–23/11/2025), tidak hanya menampilkan deretan penampil musik keras, tetapi juga membawa ruang bagi isu sosial dan lingkungan.

Selama dua hari penyelenggaraan, RIS 2025 menghadirkan musisi internasional dan nasional. Dari panggung internasional tampil Mayhem (Norwegia), Belphegor (Austria), Deez Nuts (Australia), Stillbirth (Jerman), Ugoslabier (Thailand), dan Tariot (Singapura). Sementara dari dalam negeri, sejumlah nama yang tampil antara lain Down For Life, Negatifa, The Brandals, dan Sukatani.

Festival yang telah berlangsung sejak 2004 ini menggandeng Trend Asia untuk mengampanyekan isu-isu sosial dan lingkungan. Lembaga non-pemerintah yang berfokus pada transformasi energi berkelanjutan tersebut menghadirkan talkshow, pameran, serta berbagai aksi selama gelaran RIS 2025.

Dalam sesi talkshow, Trend Asia bersama kolaborator membahas sejumlah topik, mulai dari proyek panas bumi, Proyek Strategis Nasional di Merauke, emisi beracun dari PLTU, pendanaan bank-bank di industri batubara, penyelamatan hutan dari ekspansi industri energi, hingga isu pajak dan ketimpangan ekonomi.

Rangkaian diskusi di RIS 2025 itu disebut diinisiasi secara kolaboratif oleh berbagai kelompok masyarakat sipil, di antaranya CELIOS, Yayasan Indonesia Cerah, Transparency International Indonesia, LBH Semarang, Yayasan Pusaka, serta masyarakat yang terdampak industri ekstraktif.

Selain diskusi dan pameran, RIS 2025 juga memberi ruang bagi para penampil untuk menyuarakan sikap terkait bencana lingkungan dan kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat serta lingkungan. Tiga band yang berkolaborasi dengan Trend Asia—Sukatani, The Brandals, dan Down For Life—mengangkat isu ekstraktivisme di Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah; penggundulan hutan untuk energi; serta Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru disahkan DPR.

Sukatani, misalnya, menggunakan panggung RIS 2025 untuk menyuarakan protes terhadap Proyek Semen Pracimantoro. Mereka menyoroti ancaman proyek tersebut terhadap ekosistem gamping atau kars yang dinilai dapat merusak bentang alam dan mengancam pasokan air bersih warga yang bergantung pada sistem mata air.

Sementara itu, The Brandals menyampaikan kritik terhadap KUHAP yang baru. Band tersebut menyatakan kekhawatiran adanya pasal yang berpotensi membatasi kebebasan berekspresi dan menjadi alat kriminalisasi bagi masyarakat yang kritis.

Down For Life mengajak publik dan penggemar musik keras untuk terus menyuarakan aspirasi, terutama di tengah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak masyarakat dan situasi bencana iklim, termasuk banjir rob yang mengancam Pulau Jawa.

Juru Kampanye Energi Trend Asia, Novita Indri, mengatakan isu lingkungan tidak dapat dipisahkan dari musik. Menurutnya, musik rock yang keras dapat menjadi medium untuk menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan, termasuk ketidakadilan bagi lingkungan. “Kita harus berisik untuk bumi, karena berbagai kerusakan lingkungan atas kebijakan pemerintah yang semakin ngawur. Menyuarakan isu ketidakadilan bagi lingkungan sebagaimana seperti alunan musik yang kita nikmati setiap harinya,” kata Novita.

Vokalis Down For Life, Stephanus Adjie, menuturkan band-nya mendedikasikan penampilan mereka untuk korban kekerasan dan pelanggaran HAM. “Juga untuk semua rakyat dan masyarakat adat yang haknya dirampas atas negara dan oligarki,” ujar Adjie.