Sembilan negara anggota Uni Eropa (UE) menyerukan agar blok tersebut berhati-hati dalam menyiapkan kebijakan pro-industri lokal bertajuk “Buy European”. Seruan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut dapat memicu dampak ekonomi yang tidak diinginkan, termasuk gangguan pada rantai pasok dan kenaikan harga.
Rencana “Buy European” tengah disiapkan oleh Komisi Eropa dan dijadwalkan diluncurkan pada Januari 2026. Kebijakan itu ditujukan untuk memperkuat industri UE, mengurangi ketergantungan pada impor, serta mendukung transisi ekonomi hijau.
Dalam surat bersama, sembilan negara—Republik Ceko, Estonia, Finlandia, Irlandia, Latvia, Malta, Portugal, Swedia, dan Slovakia—memperingatkan agar kebijakan tersebut tidak berubah menjadi proteksionisme yang merugikan. Mereka menilai langkah memperkuat daya saing Eropa perlu ditempuh tanpa menimbulkan gangguan pada rantai pasok global maupun memperburuk fragmentasi ekonomi di dalam UE.
Negara-negara tersebut juga menyoroti potensi pembatasan akses produk dari mitra dagang seperti China atau Amerika Serikat. Menurut mereka, hal itu dapat memicu pembalasan dagang yang pada akhirnya berisiko mengganggu stabilitas ekonomi global.
Di sisi lain, Komisi Eropa menyiapkan paket kebijakan baru untuk memperkuat kemandirian industri dan mempercepat produksi teknologi bersih. Targetnya mencakup penurunan emisi karbon sekaligus mendorong produksi energi ramah lingkungan, termasuk upaya menarik investasi pada sektor energi terbarukan dan manufaktur baterai.
Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa Margrethe Vestager menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara dukungan bagi industri domestik dan keterbukaan pasar. Ia menyatakan kebijakan industri Eropa perlu tetap sejalan dengan prinsip perdagangan bebas dan persaingan yang sehat.
Namun, perdebatan di internal UE masih berlangsung. Sejumlah negara anggota menilai dukungan finansial untuk industri tertentu dapat memunculkan persaingan internal yang tidak adil di pasar tunggal Eropa. Perbedaan pandangan ini mencerminkan tantangan UE dalam menyeimbangkan kemandirian ekonomi dengan keterbukaan terhadap pasar global.
Negara-negara yang lebih liberal, seperti Swedia dan Belanda, menilai pendekatan proteksionis berisiko melemahkan daya saing jangka panjang. Menteri Perdagangan Belanda Geoffrey van Leeuwen menyatakan Eropa tidak boleh terisolasi di tengah tantangan ekonomi global dan memperingatkan kerugian bersama jika setiap blok menerapkan kebijakan proteksionis.
Sementara itu, negara-negara besar seperti Prancis dan Jerman cenderung mendukung pendekatan pro-industri. Mereka berargumen langkah tersebut diperlukan untuk merespons kebijakan industri agresif dari Amerika Serikat dan China.

