Son La Susun Rencana 2026–2030 untuk Perikanan Berkelanjutan dan Transparan

Son La Susun Rencana 2026–2030 untuk Perikanan Berkelanjutan dan Transparan

Pemerintah Provinsi Son La menerbitkan Rencana No. 37/KH-UBND untuk periode 2026–2030 sebagai arah restrukturisasi sektor perikanan. Rencana ini ditujukan untuk membuka peluang pertumbuhan baru sekaligus menjadi landasan pembentukan rantai nilai akuakultur siklus tertutup yang dikaitkan dengan perlindungan lingkungan dan pengembangan pariwisata.

Son La saat ini memiliki lebih dari 26.000 hektar permukaan air. Keberadaan waduk PLTA Son La dan Hoa Binh dinilai menyimpan potensi besar untuk pengembangan budidaya perairan tawar. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan di provinsi tersebut mulai memanfaatkan peluang ini dengan beralih dari eksploitasi alami menuju budidaya terkontrol, serta membentuk kawasan produksi komoditas yang lebih terkonsentrasi.

Di Komune Quynh Nhai, yang berada di kawasan waduk Sungai Da, budidaya ikan keramba berkembang pesat. Wilayah ini memiliki 25 koperasi perikanan dengan lebih dari 4.000 keramba dan menghasilkan lebih dari 1.800 ton per tahun. Selain memproduksi bahan baku, Quynh Nhai juga mengembangkan pengolahan dan diversifikasi produk, antara lain bakso ikan, sosis ikan, abon ikan, serta fillet ikan beku.

Ketua Komite Rakyat Komune Quynh Nhai, Nguyen Ngoc Tu, mengatakan orientasi wilayahnya adalah mengembangkan budidaya perikanan berkelanjutan dengan menghubungkan produksi dan pengolahan. Karena itu, rumah tangga dan koperasi didorong menerapkan prosedur VietGAP, mengadopsi teknik budidaya yang lebih maju, serta memperkuat kemitraan dengan pelaku usaha untuk membentuk rantai produksi–pengolahan–konsumsi. Komune juga memilih produk unggulan untuk program OCOP (Satu Komune Satu Produk), mendukung peningkatan pengemasan dan pelabelan, serta mempromosikannya melalui platform digital.

Perkembangan serupa terlihat di Komune Muong La yang juga berada di kawasan waduk Sungai Da. Dengan memanfaatkan luas permukaan waduk, masyarakat membudidayakan berbagai jenis ikan seperti lele, nila, ikan mas, dan jenis lainnya. Saat ini, komune tersebut memiliki lebih dari 1.100 keramba, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2020. Dari jumlah itu, ikan sturgeon menempati lebih dari 300 keramba. Total produksi perairan mencapai sekitar 1.000 ton, dengan lebih dari separuhnya diproduksi sesuai standar VietGAP dan bersertifikat keamanan pangan.

Salah satu pembudidaya, Cam Van Minh dari Desa La Muong, menuturkan ia mulai budidaya ikan keramba skala kecil pada 2016. Setelah melihat hasilnya baik, ia meminjam lebih dari 200 juta VND untuk membeli jaring dan memagari area budidaya seluas 2 hektar. Kini keluarganya membudidayakan ikan mas rumput, ikan mas biasa, lele, nila, dan jenis lain yang dipanen sepanjang tahun, dengan keuntungan lebih dari 200 juta VND per tahun.

Secara makro, nilai produksi pertanian, kehutanan, dan perikanan Son La pada 2025 diproyeksikan mencapai lebih dari 9.144 miliar VND, meningkat 6,76% dibandingkan 2024 dan berkontribusi terhadap pertumbuhan PDB provinsi. Dalam konteks ini, sektor perikanan dinilai semakin menegaskan perannya sebagai bidang yang berpotensi menjadi terobosan. Pemerintah provinsi pun menargetkan restrukturisasi perikanan melalui pergeseran dari pola pengembangan ekstensif menuju intensif, dengan penekanan pada produktivitas, kualitas, dan nilai tambah.

Salah satu langkah yang ditekankan adalah pengembangan spesies perairan. Son La juga berencana meningkatkan dan memperluas fasilitas pembibitan, mendorong penerapan teknologi tinggi dalam seleksi dan pembenihan, serta memprioritaskan spesies bernilai ekonomi tinggi yang sesuai dengan kondisi alam setempat. Selain itu, penerapan teknologi informasi dan transformasi digital dalam manajemen produksi turut dipacu untuk mendukung pemantauan, pelacakan, dan optimalisasi proses budidaya.

Untuk budidaya, Son La mengarahkan pengembangan ke kawasan budidaya terkonsentrasi di waduk, terutama di wilayah PLTA Son La dan Hoa Binh. Model keterkaitan multi-sektoral turut dipromosikan, yakni mengombinasikan budidaya perikanan dengan pariwisata, jasa, serta perlindungan sumber daya alam. Spesies utama seperti salmon, sturgeon, lele, ikan mas, ikan karper, dan nila akan terus dikembangkan secara intensif dengan teknik budidaya yang lebih maju, sembari memperluas budidaya ke spesies baru bernilai ekonomi tinggi sesuai kebutuhan pasar.

Strategi penting lainnya adalah mendorong peralihan dari penjualan produk mentah ke pengolahan lanjutan. Pemerintah provinsi menilai langkah ini krusial untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada pasar bahan baku.

Wakil Direktur Dinas Pertanian dan Lingkungan Provinsi, Vu Tien Dinh, mengatakan pemerintah daerah mendorong investasi pada pabrik pengolahan dan sistem penyimpanan dingin guna memperluas rantai nilai. Di saat yang sama, penguatan merek bersertifikat seperti “Ikan Sturgeon Son La” dan “Ikan Sungai Son La Da” terus dilakukan. Ia juga menyebut penerapan kode QR pada setiap produk dan keramba untuk menyediakan informasi transparan, membantu konsumen melacak asal-usul produk, serta meningkatkan reputasi di pasar.

Untuk mencapai target, Son La berfokus mengintegrasikan sumber daya dari sejumlah program target nasional, termasuk pengentasan kemiskinan berkelanjutan, pembangunan pedesaan baru, serta pembangunan sosial ekonomi di wilayah etnis minoritas dan pegunungan. Pemerintah provinsi juga meneliti dan menerapkan kebijakan khusus, seperti dukungan benih serta mendorong investasi teknologi akuakultur resirkulasi dan penghematan energi. Dalam pengembangan rantai nilai, peran pelaku usaha, koperasi, dan masyarakat setempat ditempatkan sebagai elemen sentral.

Sesuai rencana, pada 2030 Son La menargetkan luas budidaya perikanan mencapai 3.165 hektar, jumlah keramba meningkat menjadi lebih dari 7.200 unit, dan produksi melampaui 10.700 ton. Persentase produk yang menerapkan proses produksi aman seperti VietGAP juga ditargetkan meningkat, dengan setidaknya 35% produksi dikendalikan sesuai standar.