SPPG Desa Padasan, Kecamatan Pujer, Bondowoso, menyampaikan penjelasan terbuka mengenai penggunaan anggaran Rp15.000 per porsi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Klarifikasi ini disampaikan sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat.
Penjelasan tersebut muncul setelah menu kering MBG di awal Ramadan menjadi sorotan. Sejumlah warga menilai anggaran per porsi seharusnya cukup untuk menyediakan makanan dengan porsi lebih besar.
Pengawas Pengadaan Bahan Pangan SPPG Padasan, Tri Septiana Muhlisa, menegaskan bahwa total pagu Rp15.000 tidak sepenuhnya dialokasikan untuk bahan makanan. Menurutnya, sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000 digunakan khusus untuk kebutuhan makanan dan pemenuhan gizi penerima manfaat, mulai dari balita, pelajar SD hingga SMA, serta ibu hamil dan menyusui.
“Rp15.000 itu bukan seluruhnya untuk makanan. Ada pembagian untuk operasional dan kebutuhan pendukung lainnya,” ujar Tri.
Tri menjelaskan, Rp3.000 dialokasikan untuk biaya operasional seperti gaji karyawan dapur, listrik, serta gas memasak. Sementara Rp2.000 lainnya digunakan untuk sewa tempat, peremajaan peralatan dapur, serta fasilitas pendukung layanan gizi.
Dengan skema tersebut, komposisi anggaran terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni Rp8.000–Rp10.000 untuk makanan, Rp3.000 untuk operasional, dan Rp2.000 untuk sarana prasarana. Tri menyebut pembagian ini dirancang agar program tetap berjalan stabil tanpa mengorbankan kualitas menu maupun standar gizi.
Selain aspek kesehatan penerima manfaat, Tri menilai program dapur gizi juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat desa. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka lapangan kerja bagi warga tanpa memandang latar belakang pendidikan, sekaligus menyerap hasil pertanian dan peternakan lokal.
“Program ini bukan sekadar menyediakan makanan bergizi, tetapi juga membangun ekosistem ketahanan pangan dari desa hingga nasional,” tambahnya.
Tri berharap keterbukaan informasi terkait rincian anggaran ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat serta mencegah kesalahpahaman mengenai penggunaan dana program MBG.
Sementara itu, salah satu wali murid, Laili Masrurah, mengaku merasakan manfaat program karena mampu mengurangi pengeluaran uang saku anaknya.

