SEMARANG — Tata ruang yang baik dinilai tidak otomatis membuat suatu wilayah terbebas dari bencana. Upaya mitigasi yang tepat, disertai perilaku masyarakat yang mendukung, disebut menjadi kunci untuk menekan risiko bencana.
Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Semarang, Handaka Ridhlo Kurniawan, menilai masih terdapat kelemahan pada aspek mitigasi bencana. Ia menekankan, perencanaan pembangunan yang tidak diimbangi mitigasi justru berpotensi menimbulkan risiko.
“Kita ngerencanain mau ngasih perumahan atau permukiman di daerah sini, tapi daerah itu sebenarnya fatal untuk daerah terbangun. Kalau data harusnya bisa dicari, ya seperti jenis tanah atau topografi, kalau menurutku lebih kalau dari pemerintah itu perizinannya,” ucapnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Rabu, 8 April 2026.
Menurut Ridhlo, pemahaman terhadap karakteristik wilayah—seperti jenis tanah dan topografi—perlu menjadi pertimbangan sebelum pembangunan ditetapkan. Ia juga menilai proses perizinan harus memperhitungkan aspek kerawanan bencana agar pembangunan tidak dilakukan di lokasi yang berisiko.
Selain faktor perencanaan dan perizinan, perilaku masyarakat turut memengaruhi potensi bencana. Mahasiswa PWK USM lainnya, Raka Shidqiya Mahib, mencontohkan kondisi sungai yang terdampak kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Ambil contoh sekarang Semarang ‘kan punya sungai, itu kalau kesadaran masyarakat mengelola sungainya dengan baik masih buang sampah sembarangan. Pasti daerah tepian sungai kena dampaknya, yang harusnya aliran sungai itu lancar bisa sampai ke hilir tapi terhambat sama sampah masyarakat,” ucapnya.
Raka menambahkan, sampah yang menyumbat aliran sungai dapat memicu banjir. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kesadaran kolektif warga dalam menjaga lingkungan.
Untuk menentukan tingkat kerawanan suatu wilayah, Ridhlo menyebut diperlukan analisis dan kajian yang komprehensif. Ia menuturkan metode seperti overlay dan pembobotan dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi bencana berdasarkan sejumlah faktor.
“Misal ada analisis overlay dan pembobotan, untuk bencana sendiri kalau longsor ada pembobotan curah hujan, topografi, sama jenis tanah. Tiga faktor itu yang nentuin apakah itu bencana longsor itu berpotensi atau nggak, kalau misal banjir ada lagi dari topografi dan curah hujan,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, potensi bencana dapat dipetakan lebih akurat dan diharapkan menjadi dasar pengambilan kebijakan pembangunan yang lebih aman serta berkelanjutan.

