Perkembangan teknologi kesehatan digital di Indonesia terus melaju, terutama sejak pandemi COVID-19 memunculkan kebutuhan mendesak terhadap layanan kesehatan jarak jauh. Telemedicine kini tidak lagi dipandang sebagai layanan pelengkap, melainkan mulai menjadi bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan modern. Kemudahan akses, konsultasi yang lebih cepat, serta efisiensi biaya menjadi sejumlah faktor yang mendorong meningkatnya minat masyarakat menggunakan layanan kesehatan berbasis digital.
Ketua Program Studi Magister Rumah Sakit (MARS) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Elsye Maria Rosa, M.Kep, mengatakan telemedicine berkembang pesat dalam lima tahun terakhir. Menurutnya, pada masa pandemi masyarakat mencari alternatif layanan kesehatan karena keterbatasan mobilitas dan tingginya risiko penularan di fasilitas kesehatan. Kebiasaan tersebut, kata dia, berlanjut meski situasi pandemi telah mereda.
Peningkatan penggunaan telemedicine terlihat dari melonjaknya pemanfaatan berbagai platform kesehatan digital, seperti Halodoc, Alodokter, KlikDokter, hingga aplikasi milik rumah sakit. Tren ini menunjukkan peluang telemedicine dalam memperluas akses layanan kesehatan di tengah tantangan geografis Indonesia yang luas serta distribusi tenaga kesehatan yang belum merata.
Elsye mencontohkan situasi di Kulon Progo, ketika seorang ibu yang anaknya mengalami demam tinggi dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak di Yogyakarta melalui aplikasi. Dengan cara itu, pasien tidak perlu menempuh perjalanan sekitar 45 hingga 60 menit untuk memperoleh penanganan awal, sehingga pertolongan medis dapat diakses lebih cepat.
Selain telemedicine, perkembangan layanan kesehatan digital juga mendorong munculnya model layanan baru yang dikenal sebagai telenursing. Dalam konsep ini, perawat berperan sebagai pendamping digital yang memberikan edukasi, membantu proses triase, memantau kondisi pasien, serta memastikan pasien menjalankan instruksi medis secara tepat dari rumah.
Dalam praktik telenursing, perawat dapat memandu teknik perawatan luka, cara mengukur tekanan darah dan gula darah secara mandiri, pengaturan pola diet sehat, hingga teknik relaksasi untuk membantu mengurangi nyeri. Pendampingan dilakukan melalui video call, pesan suara, atau instruksi visual, sehingga pasien dan keluarga diharapkan lebih mandiri namun tetap terhubung dengan tenaga kesehatan.
Manfaat lain yang kian dirasakan adalah efisiensi waktu dan sumber daya di fasilitas kesehatan. Ketika sebagian layanan dasar beralih ke platform digital, rumah sakit dapat mengurangi antrean dan mengoptimalkan tenaga medis untuk menangani kasus yang lebih kompleks. Di sisi lain, pasien juga berpeluang memperoleh pendampingan yang lebih berkelanjutan, terutama bagi mereka yang memerlukan pemantauan jangka panjang.
Meski demikian, Elsye menekankan keberhasilan telemedicine tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Ia menilai kesiapan pasien dan tenaga kesehatan dalam memanfaatkan layanan digital menjadi faktor penting. Menurutnya, telemedicine perlu dipastikan benar-benar inklusif melalui penguatan infrastruktur digital, edukasi pasien, serta peningkatan literasi teknologi bagi tenaga kesehatan, agar masyarakat di berbagai wilayah dapat mengakses layanan kesehatan dengan layak dan cepat.

