Film terbaru Mahakarya Pictures, Rest Area (2025), mencoba mengambil jalur berbeda dari banyak film horor lokal. Film debut Aditya Testarossa ini tidak hanya mengandalkan adegan berdarah dan jumpscare, tetapi juga berupaya menyisipkan kritik sosial melalui cerita lima remaja kaya yang terjebak di sebuah rest area usai menabrak seseorang. Di lokasi itu, mereka diteror sosok Hantu Kresek.
Dengan jajaran pemain seperti Lutesha, Chicco Kurniawan, dan Ajil Ditto, film ini sempat terlihat menjanjikan. Namun, hasil akhirnya menimbulkan pertanyaan: apakah Rest Area berhasil menjadi slasher segar dengan isu sosial yang kuat, atau justru terperangkap dalam pola horor yang umum?
Kritik sosial dalam balutan slasher
Dari premisnya, Rest Area tampak ambisius. Cerita menghadirkan teror supranatural yang diselingi komentar tentang mafia tanah, status sosial, hingga karma bagi kelas menengah atas. Dengan durasi 79 menit, konsep film ini disebut terdengar seperti gabungan beberapa referensi, mulai dari Rumah Kaliurang (2022) hingga Triangle (2009), serta nuansa yang mengingatkan pada adaptasi game horor Until Dawn (2025).
Namun, ide tersebut dinilai tidak dieksekusi dengan kuat. Sejumlah adegan justru terasa seperti horor-komedi, termasuk momen ketika salah satu karakter ditarik masuk ke dalam WC. Adegan-adegan semacam ini malah menjadi yang paling mudah diingat, sementara narasi serius tentang konflik sosial yang ingin dibangun tidak meninggalkan dampak serupa. Film ini dinilai berpotensi lebih solid apabila sejak awal lebih tegas memosisikan diri sebagai horor satire.
Banyak gagasan, minim pengolahan
Di atas kertas, film ini memiliki modal yang cukup: pemain mumpuni, chemistry antarkarakter yang baik, dan gagasan yang segar. Namun naskah disebut menjadi hambatan utama. Dialog dianggap dangkal, motivasi karakter kurang tergali, dan beberapa plot twist justru membuat alur membingungkan tanpa payoff yang memuaskan.
Dari sisi teknis, sinematografi dinilai sekadar memadai tanpa shot yang benar-benar membantu penceritaan. Elemen horornya pun dianggap mengikuti pola yang sudah sering dipakai, seperti hantu yang muncul tiba-tiba, kesurupan, hingga time looping. Secara keseluruhan, film ini terasa seperti proyek yang penuh semangat tetapi kurang arahan. Di tengah kelemahan tersebut, penampilan Lutesha dan Chicco Kurniawan disebut cukup solid dan seolah menjadi penopang utama film.
Layak ditonton atau tidak?
Penilaian akhirnya: film ini lebih cocok untuk penonton yang penasaran. Rest Area dinilai memiliki potensi besar sebagai horor slasher lokal dengan komentar sosial, tetapi hasil akhirnya dianggap mengecewakan. Sejumlah momen absurd bisa memancing tawa, bukan karena dirancang sebagai komedi, melainkan karena naskah yang lemah dan alur yang terasa tidak rapi.
Bagi penonton yang ingin melihat akting Lutesha dan Chicco, atau sekadar mencari tontonan teen-slasher meski eksekusinya berantakan, Rest Area masih bisa dipertimbangkan. Namun, untuk yang mengharapkan plot yang tertata, menegangkan, serta kritik sosial yang tajam, film ini dinilai belum memenuhi harapan.

