Video Viral Ambruknya Ponpes Al-Khoziny Ternyata Buatan AI, Identitas Media Ikut Dipalsukan

Video Viral Ambruknya Ponpes Al-Khoziny Ternyata Buatan AI, Identitas Media Ikut Dipalsukan

Sebuah video yang diklaim memperlihatkan detik-detik ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, beredar luas di TikTok. Tayangan itu menampilkan sebuah bangunan besar roboh dan dilengkapi logo media nasional di sudut layar, sehingga tampak seperti cuplikan pemberitaan resmi.

Video tersebut pertama kali diunggah pada 29 September 2025. Hingga beredar luas, video itu telah ditonton hampir 24 juta kali, mengumpulkan lebih dari 207 ribu likes, serta hampir 5.000 komentar.

Secara sekilas, bangunan dalam video memang menyerupai foto Pondok Pesantren Al-Khoziny yang dilaporkan ambruk pada Senin (29/09). Dalam peristiwa itu, sedikitnya 67 orang dilaporkan meninggal dunia saat artikel rujukan ini dirilis. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan video viral tersebut bukan rekaman asli kejadian.

Berdasarkan analisis yang dilakukan tim Cek Fakta DW, video yang beredar dinyatakan dibuat dengan kecerdasan buatan (AI) dan palsu. Sejumlah kejanggalan terlihat dari sisi visual, antara lain gerakan kamera yang terasa kaku, suara bangunan roboh yang tidak sinkron, serta efek debu saat runtuh yang tampak seperti simulasi digital.

Di sudut kanan atas video juga terlihat logo PixVerse.ai. Penelusuran menunjukkan PixVerse merupakan platform yang dapat menghasilkan video menggunakan teknologi AI. Pemeriksaan tambahan dengan alat pendeteksi video AI turut mengindikasikan kemungkinan 82,89% bahwa video tersebut merupakan hasil buatan AI.

Menariknya, pada unggahan asli, pembuat konten mencantumkan tagar #ilustrasi dan #AI pada keterangan video. Meski demikian, banyak pengguna tetap mengira tayangan itu merupakan dokumentasi nyata dari kejadian ambruknya bangunan pondok pesantren.

Kesimpulannya, tragedi ambruknya Pondok Pesantren Al-Khoziny memang terjadi, tetapi video yang mengklaim menampilkan momen runtuhnya bangunan tersebut bukanlah rekaman asli, melainkan hasil rekayasa digital.

Selain soal keaslian video, penelusuran juga menemukan indikasi pemalsuan identitas media atau media spoofing. Video itu dikaitkan dengan berita seolah berasal dari Liputan6.com, lengkap dengan elemen visual yang menyerupai tampilan media tersebut. Hasil pengecekan menunjukkan Liputan6.com memang memuat berita dengan judul dan isi yang sama, tetapi tidak menampilkan video ambruknya bangunan pondok pesantren.

Dalam artikel yang dimaksud, hanya terdapat foto bangunan sebelum runtuh dan isi berita berupa kesaksian salah satu santri yang berada di lokasi saat kejadian. Temuan ini menguatkan bahwa elemen visual dan identitas media digunakan tanpa izin untuk mendukung konten menyesatkan.

Penelusuran melalui pencarian gambar terbalik di Google juga menemukan video itu diunggah ulang oleh sejumlah akun di berbagai platform. Dari beberapa unggahan ulang yang diperiksa, tidak satu pun mencantumkan keterangan bahwa video tersebut buatan AI. Sejumlah unggahan bahkan berasal dari akun bercentang biru, memperlihatkan bagaimana disinformasi dapat menyebar luas melalui kanal yang kerap diasosiasikan dengan kredibilitas.

Peneliti media dan teknologi dari Pusat Studi Komunikasi, Media, Budaya dan Sistem Informasi (CMIC), Detta Rahmawan, menilai fenomena semacam ini memiliki pola. Menurutnya, pembuat konten kerap meniru tampilan media arus utama yang kredibel, memanfaatkan momentum isu yang ramai, dan membuat konten yang secara emosional mudah tersebar, termasuk melalui judul sensasional dan bersifat clickbait.

Detta juga menyoroti bahwa keterbukaan penggunaan AI melalui tagar atau keterangan memang penting, namun tidak selalu dipahami audiens. Ia menilai faktor pemahaman publik turut menentukan bagaimana disinformasi dapat muncul dan menyebar.

Selain itu, ia menekankan pergeseran makna simbol centang biru di media sosial. Jika sebelumnya centang biru identik dengan verifikasi ketat, kini—menurutnya—simbol tersebut tidak lagi otomatis menandakan kredibilitas karena dapat diperoleh lewat mekanisme berbayar. Perubahan sistem ini, kata Detta, membuka ruang lebih besar bagi penyebaran konten menyesatkan, terlebih ketika perubahan tersebut tidak dijelaskan secara memadai kepada publik dan literasi digital masih menjadi tantangan.

Kasus video ambruknya Ponpes Al-Khoziny ini memperlihatkan keterkaitan antara kemajuan teknologi AI, praktik pemalsuan identitas media, dan perubahan sistem verifikasi di platform digital yang dapat menciptakan ruang baru bagi disinformasi.