Pemandangan skyline Tangerang Selatan (Tangsel) pada 2026 digambarkan sebagai hamparan “hutan beton” yang megah. Deretan apartemen menjulang dan pusat perbelanjaan menjadi bagian dari lanskap perkotaan yang semakin padat.
Di tengah laju pembangunan tersebut, muncul pertanyaan tentang arah tata ruang kota: ketika bangunan dan permukaan kedap air kian meluas, ke mana air akan mengalir. Isu ini menempatkan pengelolaan ruang dan keseimbangan lingkungan sebagai sorotan dalam perkembangan Tangsel.
Gambaran perubahan wajah kota itu menguatkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan fisik tidak selalu sejalan dengan kebutuhan ruang terbuka dan sistem resapan. Kondisi ini memunculkan dorongan untuk menggugat dan meninjau kembali tata ruang Tangerang Selatan agar pembangunan tidak mengabaikan daya dukung lingkungan.

