BGN Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis Selama Ramadhan, Fokus pada Kemasan, Menu, dan Transparansi AKG

BGN Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis Selama Ramadhan, Fokus pada Kemasan, Menu, dan Transparansi AKG

Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan berkomitmen meningkatkan mutu pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadhan, menyusul pemberitaan dan penilaian masyarakat bahwa menu pada awal Ramadhan dinilai belum memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).

Pernyataan itu disampaikan Kepala BGN Dadan Hindayana saat rapat koordinasi bersama seluruh mitra dan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk merespons dinamika di lapangan. “Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadhan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, serta transparan dari sisi penggunaan anggaran. Evaluasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik,” kata Dadan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (25/2).

Dadan menyebut evaluasi dilakukan secara menyeluruh, meliputi aspek kemasan, komposisi menu, hingga transparansi perhitungan AKG. Ia meminta SPPG dan mitra memberi perhatian khusus pada kemasan makanan. Menurutnya, makanan tidak boleh hanya dikemas dalam kantong plastik sederhana, melainkan perlu ditempatkan dalam wadah yang lebih representatif, higienis, dan mampu menjaga kualitas makanan hingga diterima penerima manfaat.

Dari sisi komposisi, BGN menyoroti penyesuaian bahan pangan agar sesuai pagu bahan baku yang telah ditetapkan. Dadan mencontohkan menu berbahan kacang yang dinilai memiliki harga relatif lebih mahal dibandingkan telur, sementara telur dianggap memiliki citra protein yang lebih baik dan lebih mudah diterima masyarakat. Karena itu, mitra diminta menyesuaikan komposisi menu dengan mengganti kacang menjadi telur tanpa mengurangi nilai gizi.

BGN juga meminta setiap SPPG menyusun penjelasan rinci terkait AKG dan harga masing-masing bahan pangan dalam setiap menu. Dadan menyebut pagu anggaran harga bahan baku untuk balita hingga siswa SD kelas 3 sebesar Rp8.000, sedangkan untuk kelompok lainnya Rp10.000. “Patokan dasar tersebut dapat berbeda sesuai indeks kemahalan daerah dan bersifat at cost, sehingga perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas makanan selama distribusi, SPPG diminta mulai melakukan pengadaan peralatan vakum agar makanan lebih awet, higienis, dan tetap layak konsumsi. Langkah ini disebut sebagai bagian dari penguatan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG selama Ramadhan.

Selain itu, BGN mengingatkan agar mitra tidak memaksakan penggunaan bahan baku yang sudah dalam kondisi kurang baik. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, distribusi dapat ditunda dan diinformasikan untuk diganti pada hari berikutnya. Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan keamanan dan kesehatan penerima manfaat.

“Kami tidak ingin ada kompromi dalam hal kualitas. Prinsipnya sederhana: makanan harus aman, bergizi, dan sesuai pagu. Jika ada bahan yang tidak layak, lebih baik diganti daripada dipaksakan. Ini bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat,” tutur Dadan.