Cek Fakta: Klaim Putin Beri “Pelajaran Keras” kepada Prabowo soal Minyak Rusia Tidak Terbukti

Cek Fakta: Klaim Putin Beri “Pelajaran Keras” kepada Prabowo soal Minyak Rusia Tidak Terbukti

Sebuah video di TikTok yang telah ditonton lebih dari satu juta kali mengeklaim Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan “pelajaran keras” kepada Presiden RI Prabowo Subianto terkait rencana pembelian minyak mentah Rusia. Dalam narasi video tersebut disebutkan Putin menegaskan bahwa “dalam bisnis tidak ada yang namanya teman” dan Indonesia tidak akan mendapat diskon jika membeli minyak Rusia.

Namun, hasil verifikasi Cek Fakta DW Indonesia menyimpulkan klaim itu keliru. DW menyatakan tidak ditemukan bukti bahwa Putin pernah menyampaikan pernyataan tersebut kepada Prabowo dalam pertemuan keduanya di Moskwa.

Video yang digunakan dalam konten viral itu merupakan cuplikan pertemuan Putin dan Prabowo di Moskwa pada 13 April 2026. Pertemuan itu juga menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama, di mana Indonesia memang telah dikonfirmasi akan mengimpor minyak mentah dari Rusia. Meski begitu, setelah menelaah rekaman pertemuan berdurasi hampir 16 menit, DW tidak menemukan bagian yang menunjukkan Putin “memberi pelajaran keras” kepada Prabowo atau mengucapkan kalimat “dalam bisnis tidak ada teman,” sebagaimana dinarasikan dalam unggahan TikTok tersebut.

DW juga menyebut tidak menemukan pemberitaan dari sumber kredibel yang mengonfirmasi adanya pernyataan Putin seperti yang diklaim dalam video.

Adapun kalimat “dalam bisnis tidak ada teman” yang beredar ternyata muncul dalam konteks berbeda. Pernyataan itu berasal dari Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, dalam wawancara terpisah yang dikutip Kompas.com, bukan dari Putin dalam pertemuannya dengan Prabowo.

Dalam wawancara tersebut, Sergei menjelaskan bahwa Rusia tidak menjual minyak dan gas melalui pemerintah, melainkan melalui perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki pemerintah dengan skema negosiasi antarbisnis (business to business/B2B). Ia mengatakan, meskipun sejumlah negara sempat mengajukan “harga teman”, harga minyak Rusia tetap mengikuti mekanisme pasar global. “Teman-teman, ini adalah ekonomi pasar, tidak ada teman dalam bisnis,” demikian kutipan Sergei seperti diberitakan Kompas.com. Pernyataan itu pun tidak secara gamblang merujuk pada Indonesia.

Selain soal “pelajaran keras”, konten TikTok tersebut juga menarasikan bahwa Prabowo berharap Indonesia mendapat “perlakuan khusus” dalam pembelian minyak Rusia. Menurut DW, klaim ini sulit dibuktikan karena kemungkinan negosiasi mengenai harga dan ketentuan pembelian dapat dilakukan secara tertutup.

Peneliti Departemen Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Waffaa Kharisma, mengatakan negosiasi tertutup bisa saja terjadi, tetapi analisis hubungan internasional akan sulit dilakukan jika hanya bertumpu pada spekulasi tanpa akses informasi yang memadai. Sementara itu, Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi, menyebut potensi pembahasan diskon atau kesepakatan lain di balik layar merupakan hal yang lazim dalam politik ekonomi.

DW menyatakan timnya telah berupaya meminta klarifikasi kepada sumber resmi terkait klaim permohonan “perlakuan khusus”, termasuk Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia. Namun hingga artikel tersebut terbit, belum ada pernyataan resmi yang diberikan.

Di sisi lain, Indonesia disebut tengah mendiversifikasi sumber pasokan energi. Dikutip dari berbagai sumber berita nasional, Indonesia telah mendapatkan komitmen untuk mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia secara bertahap. Rusia pun menjadi salah satu pemasok energi bagi Indonesia di tengah krisis energi global yang dipicu perang Amerika Serikat–Israel dengan Iran.

Menurut Ali Ahmudi, diversifikasi pasokan menjadi penting karena Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara produksi dan kebutuhan. Ia menyebut produksi domestik berada di kisaran 600–700 ribu barel per hari, sementara kebutuhan mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Kondisi ini mendorong Indonesia mencari pasokan dari luar yang tidak lagi terlalu bergantung pada Timur Tengah, terlebih setelah hambatan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.