Perkembangan computer vision tidak lagi sebatas wacana teknologi masa depan. Penerapannya kian nyata di berbagai sektor strategis, termasuk kesehatan. Salah satu teknik yang disebut menjadi fondasi penting adalah semantic segmentation, yakni metode analisis citra yang dapat mengenali dan memetakan objek secara detail hingga tingkat piksel.
Ketua Program Studi Informatika (S1) Universitas Nusa Mandiri, Arfhan Prasetyo, menilai perkembangan ini merupakan peluang besar bagi mahasiswa Informatika. Menurutnya, praktik medis tradisional selama ini banyak mengandalkan observasi visual sebagai dasar diagnosis. Pendekatan tersebut kaya pengalaman, namun kerap bersifat subjektif. Dengan integrasi computer vision, analisis visual dinilai dapat dilakukan lebih sistematis, terukur, dan berbasis data.
Arfhan menekankan mahasiswa tidak cukup hanya memahami algoritma di ruang kelas, tetapi juga perlu mampu menerjemahkan teknologi menjadi solusi nyata. Ia menyebut di Program Studi Informatika S1 Universitas Nusa Mandiri, pengembangan riset berbasis image processing, deep learning, dan semantic segmentation didorong agar aplikatif di bidang kesehatan digital.
Ia menilai integrasi tersebut dapat memperkaya proses akademik karena mahasiswa belajar membangun model AI, mengolah citra medis, serta memahami konteks implementasinya. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada teori, melainkan bergerak menuju inovasi yang berdampak.
Selain itu, Arfhan menyoroti potensi kesehatan tradisional di Indonesia yang dinilainya besar, namun belum sepenuhnya dikaji secara ilmiah dengan pendekatan teknologi modern. Ia melihat mahasiswa Informatika dapat berperan sebagai pionir dalam mengembangkan sistem analisis citra berbasis AI untuk mendukung validasi dan penguatan praktik kesehatan tradisional.
Arfhan juga menekankan pentingnya kolaborasi multidisiplin. Menurutnya, Informatika tidak berdiri sendiri, melainkan dapat menjadi penggerak bagi sektor lain, termasuk kesehatan. Ia menilai ketika teknologi bertemu kebutuhan masyarakat, inovasi yang relevan dapat lahir.
Lebih lanjut, Arfhan menyebut integrasi computer vision dan kesehatan akan semakin penting seiring tuntutan industri terhadap talenta yang tidak hanya menguasai coding, tetapi juga mampu melihat peluang implementasi lintas bidang. Karena itu, ia menilai kurikulum perlu adaptif dan berbasis riset.
Dalam pandangannya, AI bukan sekadar tren, melainkan kompetensi masa depan. Ia mendorong mahasiswa Informatika untuk berani melakukan riset dan inovasi sejak sekarang, khususnya dalam pengembangan teknologi kesehatan berbasis AI.

