Opini publik kerap dianggap muncul secara alami dari respons masyarakat terhadap sebuah peristiwa. Namun, dalam konteks tertentu—terutama isu politik internasional—opini publik bisa terbentuk melalui proses yang dipengaruhi, diarahkan, bahkan dirancang oleh aktor-aktor tertentu. Sebuah ulasan yang beredar membagi pembentukan opini publik ke dalam tiga kategori: manipulated public opinion, planned public opinion, dan intended public opinion, disertai contoh kasus yang menjadi perbincangan global.
Manipulated public opinion merujuk pada opini yang terbentuk melalui informasi menyesatkan, disinformasi, atau klaim yang tidak akurat. Salah satu contoh yang disebut adalah referendum Brexit, ketika kampanye “Leave” dikaitkan dengan klaim bahwa Inggris mengirim £350 juta per minggu ke Uni Eropa, yang kemudian dinilai tidak akurat atau menyesatkan. Contoh lain adalah Pemilihan Presiden AS 2016, yang diwarnai laporan tentang upaya Rusia memengaruhi hasil pemilu melalui penyebaran disinformasi dan propaganda di media sosial. Selain itu, pandemi COVID-19 juga menjadi contoh bagaimana misinformasi dan teori konspirasi menyebar luas, yang dalam beberapa kasus dipicu atau diperparah oleh pernyataan pejabat publik.
Planned public opinion menggambarkan opini yang terbentuk melalui kampanye yang dirancang secara sistematis untuk membangun dukungan terhadap kebijakan atau kepentingan tertentu. Contoh yang disebut adalah Perang Irak, ketika pemerintah AS dan sekutunya dinilai merencanakan dan menjalankan kampanye propaganda untuk memperoleh dukungan publik bagi invasi. Contoh berikutnya terkait isu perubahan iklim, di mana perusahaan energi fosil disebut merancang kampanye untuk meremehkan atau menyangkal perubahan iklim demi memengaruhi opini publik. Sementara itu, reformasi kesehatan di AS pada era Presiden Barack Obama juga disebut sebagai contoh upaya pemerintah merencanakan kampanye untuk meraih dukungan publik terhadap Undang-Undang Perlindungan Pasien dan Perawatan Terjangkau.
Intended public opinion mengacu pada opini yang dituju atau ingin dibentuk melalui gerakan sosial dengan tujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap isu tertentu. Dalam daftar yang beredar, Black Lives Matter disebut sebagai gerakan yang bertujuan mengubah opini publik mengenai rasisme sistemik dan kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam. Selain itu, gerakan #MeToo juga dicatat sebagai upaya mendorong perubahan opini publik terkait pelecehan dan kekerasan seksual, terutama di lingkungan kerja.
Analisis yang disertakan menekankan bahwa dalam berbagai kasus tersebut opini publik tidak semata-mata “lahir begitu saja”, melainkan dapat dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki tujuan dan agenda. Karena itu, pemahaman kritis dan literasi media dinilai penting agar masyarakat mampu menilai informasi secara lebih cermat, termasuk mengenali bagaimana opini publik dibentuk dan diarahkan.

