Banjir musiman di Kabupaten Bandung dinilai terus berulang akibat ketidakseimbangan struktur ruang dan tekanan pembangunan. Secara geospasial, wilayah ini berada dalam cekungan yang menerima aliran dari kawasan hulu, sehingga perubahan tutupan lahan disebut berpengaruh langsung terhadap dinamika limpasan air.
Dalam konteks tersebut, Dedi Mulyadi menekankan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, dibutuhkan rekonstruksi tata ruang yang terintegrasi dari hulu, tengah, hingga hilir agar upaya pengendalian banjir berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Ketidakteraturan pemanfaatan ruang disebut mempercepat aliran air menuju dataran rendah dan meningkatkan potensi genangan. Berkurangnya kawasan resapan dinilai berbanding lurus dengan meningkatnya limpasan permukaan (runoff), sementara pembangunan di zona rawan dinilai memperparah akumulasi air. Karena itu, kebijakan tata ruang dipandang perlu mengatur distribusi fungsi lahan secara proporsional untuk menjaga keseimbangan sistem hidrologi.
Di tengah kompleksitas persoalan tersebut, Dedi merumuskan empat langkah strategis sebagai inti intervensi. “Satu, tata ruang Kabupaten Bandung berubah, enggak ada pilihan. Yang kedua, sungai-sungainya harus segera dinormalisasi,” kata Dedi, dikutip dari MetroTV. Ia melanjutkan, “Yang ketiga, hulu sungainya harus direhabilitasi menjadi lahan hijau. Yang keempat, perubahan lahan jangan terus terjadi, sawah terus dibikin bangunan, perumahan, segala macam. Kalau enggak dilakukan, itu enggak bersifat jangka panjang, enggak akan pernah beres. Tetap harus selesai.”
Empat langkah tersebut menggambarkan pendekatan berbasis sistem yang menggabungkan aspek kebijakan, teknis, dan ekologis. Rangkaian intervensi itu meliputi perubahan tata ruang sebagai fondasi pengendalian banjir, normalisasi sungai untuk memulihkan kapasitas aliran, rehabilitasi kawasan hulu disertai pengendalian alih fungsi lahan, serta relokasi permukiman di bantaran sungai sebagai bagian dari mitigasi risiko.
Jika dijalankan secara konsisten, pendekatan ini dinilai berpotensi membantu mengembalikan keseimbangan ekologis sekaligus menurunkan risiko banjir secara lebih berkelanjutan di Kabupaten Bandung.

