Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, beberapa pekan setelah ia sempat menuntut Teheran menyerah “tanpa syarat”. Gencatan senjata itu disebut Trump didasarkan pada rencana 10 poin yang diajukan Iran. Ia juga menyatakan hampir seluruh poin perselisihan sebelumnya telah disepakati dan menegaskan Amerika telah mencapai semua tujuan militernya.
Dari pihak Iran, pernyataan yang muncul menunjukkan sikap menerima gencatan senjata dengan syarat. Iran menyatakan akan menghentikan seluruh operasi militer jika semua pihak mematuhi kesepakatan. Namun, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan gencatan senjata ini “tidak berarti berakhirnya perang”, seraya menambahkan bahwa “tangan kami masih berada di pelatuk”.
Situasi ini memunculkan pertanyaan utama: apakah gencatan senjata dua pekan ini menjadi awal dari akhir perang, atau hanya jeda sementara sebelum eskalasi baru?
Sejumlah analisis media internasional memotret gencatan senjata ini dari sudut pandang berbeda. Ada yang menilainya sebagai “jalan keluar darurat” karena tekanan perang dan politik, sementara yang lain melihatnya sebagai bagian dari strategi negosiasi yang sengaja dibuat tidak terduga.
Gencatan senjata sebagai “jalan keluar darurat”
Analisis koresponden New York Times, David Sanger, menyebut pengumuman gencatan senjata oleh Trump lebih menyerupai “jalan keluar darurat” ketimbang terobosan strategis. Dalam pandangan ini, eskalasi retorika dan ancaman ekstrem dinilai bukan diarahkan pada kemenangan final, melainkan sebagai cara keluar dari kebuntuan politik dan militer yang kian memburuk.
Dalam konteks tersebut, The Guardian mengutip pernyataan pemimpin Partai Demokrat di Senat, Chuck Schumer, yang menyebut Trump “mundur dari posisinya dan sekarang dengan putus asa mencari jalan keluar dari omong kosongnya yang konyol.”
Sanger menguraikan sejumlah faktor yang disebut menekan posisi Trump, mulai dari ketahanan Iran yang tetap mampu melanjutkan perang asimetris—termasuk gangguan pasokan minyak dan serangan siber—hingga dampak ekonomi global akibat penutupan Selat Hormuz. Kekhawatiran negara-negara Teluk terkait serangan terhadap infrastruktur juga disebut ikut memperumit situasi, di tengah perpecahan politik dalam negeri AS yang mencakup kritik dari sebagian basis pendukung Trump sendiri.
Akar konflik dinilai belum tersentuh
Meski gencatan senjata disebut sempat menenangkan pasar dan memulihkan sebagian aliran sumber daya, sejumlah analisis menilai penyebab utama konflik belum terselesaikan. Program nuklir Iran disebut masih berjalan dengan stok besar uranium yang diperkaya, struktur politik Iran tidak berubah, dan Garda Revolusi tetap menjadi aktor utama.
Analisis tersebut juga menilai perang justru dapat menghasilkan dampak kontraproduktif meski tampak sebagai “keberhasilan” jangka pendek. Iran disebut kini memiliki kendali lebih besar atas Selat Hormuz, sementara kesenjangan kepercayaan antara kedua pihak semakin dalam. Dengan demikian, gencatan senjata dipandang lebih sebagai langkah taktis untuk meredakan tekanan ketimbang solusi, sehingga potensi eskalasi tetap terbuka selama akar konflik tidak ditangani.
Gencatan senjata yang rapuh dan pertimbangan politik
Newsweek menilai kabar “baik” berupa gencatan senjata dan penurunan harga minyak berpotensi hanya sementara, sekaligus membawa risiko politik dan ekonomi. Dalam analisis tersebut, penurunan popularitas Trump dan mendekatnya pemilu paruh waktu membuatnya berpacu dengan waktu. Jika ekonomi tidak segera membaik, Partai Republik disebut berisiko kehilangan kendali Kongres, bahkan memunculkan kemungkinan pemakzulan ketiga.
Newsweek juga mencatat bahwa turunnya harga minyak belum otomatis cepat dirasakan masyarakat karena harga bensin membutuhkan waktu menyesuaikan. Gencatan senjata disebut bisa berakhir sebelum dampak ekonomi positif benar-benar terasa, sementara Iran digambarkan hanya menerima kesepakatan sebagai langkah sementara. Jika konflik kembali memanas, keuntungan politik-ekonomi yang diharapkan Trump dapat segera menguap.
Bagian dari strategi “madman theory”
Christian Science Monitor menawarkan pembacaan berbeda dengan melihat gencatan senjata sebagai bagian dari strategi “madman theory” atau teori orang gila—yakni penggunaan perilaku tak terduga atau tampak tidak rasional untuk meningkatkan tekanan terhadap lawan. Dalam kerangka ini, Trump digambarkan memulai dengan ancaman dramatis untuk mendapatkan pengaruh, lalu mengumumkan kesepakatan atau kemajuan yang cukup untuk menunda tindakan tersebut.
Namun, para ahli memperingatkan strategi semacam itu berisiko lepas kendali dan memicu eskalasi tak terduga. Jika terlalu sering digunakan, ancaman dapat kehilangan kredibilitas dan berubah menjadi “sekadar kebisingan”.
Reaksi campuran di Washington
Di Washington, reaksi terhadap gencatan senjata disebut bercampur antara lega dan khawatir. New York Times melaporkan banyak anggota Kongres dari kedua partai menyambut baik de-eskalasi setelah berminggu-minggu perang, tetapi juga muncul pertanyaan—terutama dari Demokrat—tentang arah konflik ke depan.
Sejumlah kritik turut mengemuka. Senator Jeanne Shaheen memperingatkan bahwa eskalasi dapat mendorong Iran mempercepat program nuklirnya. Anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez mempertanyakan dasar kesepakatan, menyatakan bahwa “gencatan senjata dua minggu ini tidak mengubah apa pun.”
Di pihak Republik, respons awal digambarkan lebih hati-hati, dengan sebagian pemimpin memilih diam. Ketua DPR Mike Johnson dilaporkan hanya membagikan pengumuman gencatan senjata tanpa komentar. Meski begitu, ada pula dukungan yang menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari pendekatan “perdamaian melalui kekuatan”. Senator Rick Scott, misalnya, menilai gencatan senjata sebagai hasil kepemimpinan kuat dan langkah awal untuk menekan Iran.
Ujian berikutnya bagi Trump
Menurut analisis Sanger, tantangan utama Trump kini bukan hanya menjaga gencatan senjata, tetapi juga membuktikan bahwa perang tersebut diperlukan dan menghasilkan hasil yang lebih baik daripada jalur diplomasi. Dua tujuan yang disebut mendesak adalah mengakhiri kendali Iran atas Selat Hormuz dan menjamin kebebasan navigasi, serta mengurangi kemungkinan Iran memperoleh senjata nuklir.
Namun, tanda-tanda awal disebut belum meyakinkan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan jalur aman di Selat Hormuz hanya dijamin selama dua minggu melalui koordinasi dengan militer Iran. Di sisi lain, pengalaman negosiasi dengan Iran kerap memakan waktu panjang, seperti kesepakatan nuklir 2015 pada era Barack Obama yang membutuhkan dua setengah tahun untuk tercapai—dan kemudian ditinggalkan oleh Trump sendiri.
Dengan latar tersebut, gencatan senjata dua pekan ini dipandang sebagai momen krusial yang belum tentu menutup konflik. Jika Trump gagal mencapai hasil konkret—seperti mengeluarkan uranium yang diperkaya dari Iran atau membatasi program misilnya—maka hasil akhirnya dapat dinilai lebih buruk dibanding jalur diplomasi sebelumnya, meski perang telah menelan biaya besar.

