IHSG Merosot Lebih dari 3,5 Persen di Tengah Aksi Risk-off dan Kebijakan Transparansi Pemegang Saham BEI

IHSG Merosot Lebih dari 3,5 Persen di Tengah Aksi Risk-off dan Kebijakan Transparansi Pemegang Saham BEI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah tajam pada perdagangan Rabu (4/3/2026) pagi, seiring meningkatnya sikap risk-off investor yang menghindari aset berisiko di tengah kekhawatiran kenaikan harga minyak mentah global. Dari dalam negeri, pasar juga mencermati kebijakan baru terkait keterbukaan informasi kepemilikan saham perusahaan tercatat.

IHSG dibuka turun 43,39 poin atau 0,55 persen ke posisi 7.896,38. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan ikut melemah 3,29 poin atau 0,41 persen ke 802,31. Penurunan kemudian berlanjut lebih dalam hingga IHSG menyentuh 7.655,94, atau turun 3,57 persen.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai secara teknikal IHSG mendekati area support 7.900–7.840. Ia mengingatkan potensi penurunan lebih lanjut dengan volatilitas yang diperkirakan masih tinggi dalam dua pekan ke depan, sehingga sikap wait and see dinilai lebih banyak disarankan.

Menurut Liza, sentimen pasar global didominasi mode risk-off setelah konflik di Timur Tengah memasuki hari keempat, ditandai eskalasi serangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel. Serangan Iran terhadap fasilitas energi dan kapal tanker di kawasan Teluk, disertai ancaman penutupan Selat Hormuz—jalur yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan energi dunia—meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan global.

Harga minyak Brent dilaporkan naik ke kisaran 81–82 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat ke sekitar 74–75 dolar AS per barel. Liza menyebut lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi global karena energi merupakan komponen penting dalam biaya produksi dan transportasi.

Investor juga mulai menilai konflik dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan awal, meningkatkan risiko inflasi energi sekaligus menekan pertumbuhan global. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tidak lagi sepenuhnya memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed hingga September 2026. Fed Fund Futures menunjukkan probabilitas sekitar 56 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Juni 2026.

Di pasar keuangan global, dolar AS menguat tajam sebagai aset safe haven dan mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terhadap euro, poundsterling, dan yen Jepang. Sementara itu, harga emas global justru turun seiring penguatan dolar AS dan aksi ambil untung investor.

Ketegangan geopolitik turut memicu gangguan perdagangan global, terutama di sektor energi dan logistik. Ancaman terhadap Selat Hormuz dinilai berpotensi mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak global dan volume besar LNG dunia. Gangguan pelayaran juga disebut mendorong lonjakan tarif pengiriman dan harga energi.

Konflik juga berdampak pada sektor penerbangan. Sejumlah hub penerbangan utama di Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi dilaporkan ditutup, dengan lebih dari 21.300 penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu penumpang terlantar.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengumumkan U.S. Development Finance Corporation akan menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan bagi perdagangan maritim yang melintasi Teluk, khususnya pengiriman energi. Trump juga menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan untuk memastikan kelancaran pasokan energi global.

Dari dalam negeri, BEI bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menerbitkan informasi mengenai kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1 persen. Informasi tersebut akan dipublikasikan setiap bulan melalui situs resmi BEI. Dengan keterbukaan ini, BEI berharap investor memperoleh referensi yang lebih akurat dalam pengambilan keputusan investasi sekaligus memperkuat kepercayaan, integritas, dan kredibilitas pasar modal Indonesia.

Tekanan di pasar saham juga terlihat pada perdagangan Selasa (3/3) di berbagai bursa global. Bursa Eropa kompak melemah, dengan indeks Euro Stoxx 50 turun 3,64 persen, FTSE 100 Inggris melemah 2,75 persen, DAX Jerman turun 3,44 persen, dan CAC Prancis melemah 3,46 persen.

Wall Street juga ditutup di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,83 persen ke 48.501,27, S&P 500 turun 0,95 persen ke 6.816,63, dan Nasdaq Composite melemah 1,09 persen ke 24.720,08.

Di kawasan Asia pada Rabu pagi, sejumlah indeks bergerak bervariasi. Nikkei turun 2,94 persen ke 54.625,30, Shanghai melemah 0,73 persen ke 4.094,17, Hang Seng turun 1,68 persen ke 25.334,74, dan Kuala Lumpur melemah 0,25 persen ke 1.707,66. Sementara itu, Strait Times menguat 1,68 persen ke 4.835,25.