SIKKA, NTT — Kasi Humas Polres Sikka IPDA Leonardus Tunga, S.M. menyoroti tantangan tugas kehumasan Polri di tengah arus informasi yang bergerak cepat. Ia menyebut, peran humas bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah yang menuntut kehati-hatian karena setiap pernyataan yang disampaikan dipandang sebagai suara institusi.
Pernyataan itu disampaikan Leonardus Tunga saat ditemui di ruang kerjanya di Polres Sikka, Kamis (26/2/2026). Ia menuturkan, kebanggaan menjadi penghubung antara Polri dan masyarakat berjalan beriringan dengan beban besar, karena satu kalimat yang keliru dapat memicu kegaduhan, sementara detail yang terlewat berpotensi menimbulkan kecurigaan.
Menurutnya, tuntutan publik melalui media kerap mengarah pada kebutuhan jawaban cepat terkait peristiwa maupun penanganan perkara. Di sisi lain, proses hukum membutuhkan ketelitian serta menjunjung asas praduga tak bersalah. Ia juga menilai sorotan publik terhadap pernyataan kepolisian dapat ditafsirkan berbeda-beda.
Leonardus Tunga mengatakan, humas dituntut menjaga keseimbangan dalam menyampaikan informasi: terbuka kepada publik, namun tetap memperhatikan kerahasiaan penyelidikan. Ia menambahkan, gelombang opini di media sosial dapat mengubah narasi dalam hitungan detik sehingga humas harus siap memberikan klarifikasi.
Ia mengakui, kritik dapat datang dari berbagai arah meski upaya maksimal telah dilakukan. Namun, ia menyebut ada kepuasan tersendiri ketika penjelasan yang diberikan mampu menenangkan masyarakat. Hal itu, menurutnya, menjadi motivasi dalam menjalankan tugas sebagai bagian dari pengabdian.
“Menjadi humas Polri berarti berdiri di garis depan komunikasi, menghadapi badai opini, dan tetap tegak menjaga kepercayaan,” ujarnya.

