Klaim “Epstein Files” Ungkap McDonald’s Gunakan Daging Manusia Dipastikan Keliru

Klaim “Epstein Files” Ungkap McDonald’s Gunakan Daging Manusia Dipastikan Keliru

Klaim di media sosial yang menyebut “Epstein Files” mengungkap McDonald’s menggunakan daging manusia beredar luas disertai narasi soal kurangnya pasokan daging sapi untuk memenuhi produksi burger hingga 5 juta per hari. Sebagian unggahan juga mengaitkannya dengan isu orang hilang di Amerika Serikat, bahkan menyebut angka 600 ribu orang hilang setiap hari.

Namun, hasil pemeriksaan fakta menunjukkan narasi tersebut tidak didukung dokumen apa pun dalam Epstein Files. Tempo menelusuri arsip yang dibuka untuk publik dan tidak menemukan catatan yang membahas tuduhan kanibalisme atau penggunaan daging manusia oleh McDonald’s.

Epstein Files merupakan kumpulan dokumen yang merangkum rekam jejak kriminal Jeffrey Epstein, miliuner terpidana kasus kejahatan seksual anak serta perdagangan manusia yang meninggal di penjara New York pada 10 Agustus 2019. Otoritas membuka akses publik terhadap lebih dari 3,5 juta halaman dokumen pada 19 Desember lalu, yang memuat antara lain catatan penerbangan, buku telepon, hasil forensik digital atas ratusan ribu foto dan video, serta catatan FBI dan transkrip pengadilan.

Dalam penelusuran terhadap 418 arsip melalui laman Departemen Kehakiman Amerika Serikat dengan kata kunci “McDonald”, tidak ditemukan dokumen yang membahas penggunaan daging manusia oleh McDonald’s. Penyebutan “McDonald” di dalam arsip terutama merujuk pada nama orang seperti John McDonald dan Randal McDonald, atau nama firma hukum McDonald Hopkins LLC. Adapun nama “McDonald’s” muncul dalam konteks catatan transaksi kartu kredit sebagai bukti pembayaran biaya makan di gerai tersebut.

Di sisi lain, informasi mengenai rantai pasok McDonald’s menunjukkan perusahaan itu bekerja sama dengan peternak sapi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku. McDonald’s mengoperasikan sekitar 43 ribu gerai di seluruh dunia dengan kebutuhan daging sapi mencapai 23.400 ton. Untuk menjamin pasokan, McDonald’s menjalin kemitraan dengan berbagai peternakan sapi intensif di Australia sebagai bagian dari rantai pasok global. JBS Australia disebut menjadi salah satu operator peternakan skala besar yang menyuplai kebutuhan daging bagi 65 hingga 70 persen gerai McDonald’s di berbagai penjuru dunia. Sumber daging sapi juga disebut berasal dari Afrika Selatan, salah satunya dikelola perusahaan The Fourie Vennootskap.

Narasi yang mengaitkan klaim tersebut dengan data orang hilang di Amerika Serikat juga tidak relevan. Statista mencatat jumlah orang hilang berdasarkan data FBI mencapai ratusan ribu jiwa, tetapi jumlahnya menurun sejak 2020 hingga berada di bawah 600 ribu orang per tahun. Mayoritas orang yang sempat dilaporkan hilang ditemukan kembali dalam kondisi selamat, meski sebagian kecil ditemukan meninggal dunia tanpa identitas yang jelas.

Pakar kesehatan publik dari Monash University Indonesia, Grace Wangge, menilai isu penggunaan daging manusia oleh McDonald’s sebagai narasi yang tidak masuk akal karena ketatnya mekanisme pengawasan rantai pasok protein hewani. Pemerintah di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia, rutin melakukan audit kebersihan restoran dengan sistem penilaian. Di Indonesia, standar sertifikasi halal juga mewajibkan pengawasan menyeluruh terhadap asal-usul dan alur distribusi bahan pangan.

Jejak disinformasi serupa tercatat sudah lama beredar. Associated Press melaporkan klaim palsu mengenai penggunaan daging manusia oleh McDonald’s pertama kali muncul melalui blog satir Huzlers.com pada 2014 tanpa bukti. Narasi itu kemudian beredar kembali pada 2020 melalui sebuah halaman Facebook yang kerap menyebarkan teori konspirasi, termasuk klaim bahwa daging manusia ditemukan di pabrik McDonald’s di Oklahoma. Reuters juga menemukan konten serupa dibagikan kembali pada 2021. Snopes telah menerbitkan bantahan sejak 2014, namun narasi menyesatkan tersebut terus muncul hingga kini.

Berdasarkan verifikasi tersebut, klaim bahwa Epstein Files mengungkap McDonald’s menggunakan daging manusia sebagai bahan burger dinyatakan keliru.