Klaim Obat dan Vaksin Kanker Baru Muncul Usai AS Keluar dari WHO Dinilai Keliru

Klaim Obat dan Vaksin Kanker Baru Muncul Usai AS Keluar dari WHO Dinilai Keliru

Sebuah konten yang beredar sejak 12 Februari 2026 menampilkan grafis dan narasi yang mengklaim sejumlah negara, seperti Spanyol, Korea, dan Rusia, telah menemukan obat dan vaksin untuk mengobati kanker. Unggahan itu juga menuding industri farmasi dunia selama ini menyembunyikan fakta agar pasien tetap menjalani kemoterapi dengan biaya sangat mahal.

Namun, hasil pemeriksaan fakta menunjukkan klaim tersebut tidak didukung bukti. Tidak ada kaitan antara penemuan obat maupun vaksin kanker dengan keputusan Amerika Serikat keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Amerika Serikat memang menarik diri dari WHO melalui perintah eksekutif Donald Trump pada 20 Januari 2025. Meski demikian, riset terapi, obat, dan vaksin kanker telah berlangsung jauh sebelum peristiwa itu. Penelitian terkait kanker tercatat sudah berjalan sekitar 250 tahun dan terus berkembang hingga kini di berbagai negara.

Peneliti kanker dari Universitas YARSI, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Ph.D, menjelaskan bahwa vaksin untuk jenis kanker tertentu sudah digunakan secara luas, termasuk di Indonesia. Salah satu contohnya adalah vaksin HPV untuk mencegah infeksi human papillomavirus yang dapat memicu kanker serviks, vulva, vagina, anus, penis, serta kutil kelamin.

“Vaksin HPV saat ini sudah digunakan gratis untuk anak tingkat sekolah dasar,” kata Ahmad kepada Tempo pada Ahad, 22 Februari 2026.

Ahmad menegaskan tidak ada upaya untuk menyembunyikan obat maupun vaksin kanker. Ia menyebut vaksin hanya dapat digunakan pada manusia setelah melalui rangkaian uji klinis yang panjang.

Contoh lain adalah riset kandidat obat kanker pankreas yang dipimpin peneliti Spanyol Mariano Barbacid. Riset tersebut dilaporkan berhasil menyembuhkan kanker pankreas pada tikus, tetapi belum dapat langsung diterapkan pada manusia. Berdasarkan keterangan dari situs Elpais.com, pengembangan kandidat obat itu belum memasuki tahap uji klinis pada manusia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Zubairi Djoerban, menjelaskan tahapan pengembangan obat atau vaksin setelah uji pada hewan. Menurut dia, kandidat harus melewati uji klinis tahap I yang melibatkan 20 hingga 50 orang sehat. Jika dinyatakan aman, proses berlanjut ke tahap II dengan 100–200 pasien. Pada tahap III, uji perlu melibatkan minimal 500 orang.

“Baru kemudian produk tersebut harus mendapatkan tahap persetujuan pihak berwenang, digunakan, dan dipasarkan secara massal,” kata Zubairi.

Catatan Institut Kanker Amerika Serikat menunjukkan penelitian kanker telah dilakukan sejak 1775, ketika ilmuwan Percivall Pott mengidentifikasi hubungan paparan abu cerobong asap dengan kanker kulit langka pada sel skuamosa. Sejak itu, berbagai pendekatan berkembang, mulai dari pemanfaatan radiasi pada 1899, kajian sistem imun pada 1909, teknik pap smear pada 1928, hingga kemajuan seperti mastektomi payudara dan terapi hormonal pada 1941, kombinasi kemoterapi pada 1958, serta liquid biopsies pada 2020.

Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) juga telah menyetujui sejumlah terapi sebelum keluarnya AS dari WHO. FDA merestui sipuleucel T sebagai vaksin pengobatan kanker manusia pertama sejak 2010. Pada 2021, FDA meloloskan belzutifan atau Welireg untuk menangani tumor akibat sindrom Von Hippel Lindau. Persetujuan ini terjadi jauh sebelum perintah eksekutif Donald Trump pada 2025.

Sementara itu, sejumlah penelitian yang belakangan banyak dibicarakan juga masih berada pada tahap pengembangan. Dari Rusia, Federal Medical and Biological Agency (FMBA) tengah menguji Enteromix, vaksin berbasis mRNA yang risetnya disebut telah berjalan lebih dari tiga tahun. Kepala FMBA Veronica Skvortsova mengklaim vaksin itu efektif mengecilkan tumor pada tahap uji coba hewan. Rusia saat ini disebut menunggu persetujuan regulasi untuk merilis Enteromix agar tersedia luas.

Di Korea Selatan, peneliti di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) mengumumkan metode untuk memprogram ulang sel-sel kekebalan pada tumor agar menyerang sel kanker. Metode ini menggunakan obat yang disuntikkan langsung ke tumor dan diserap makrofag untuk memicu respons antikanker. Pengembangan tersebut masih dalam tahap uji pada hewan, dengan hasil praklinis yang dilaporkan memperlambat pertumbuhan tumor dan memicu respons kekebalan yang kuat. Uji klinis pada manusia direncanakan pada 2027.

Berdasarkan penelusuran dan keterangan para ahli, klaim bahwa obat dan vaksin kanker “baru dibuka” setelah Amerika Serikat keluar dari WHO tidak terbukti. Riset kanker telah berlangsung lama, dan pengembangan terapi baru memerlukan tahapan uji yang ketat sebelum dapat digunakan secara luas.