Mendagri Tekankan Ruang Hijau dan Jalur Pejalan Kaki untuk Wujudkan Kota Sehat

Mendagri Tekankan Ruang Hijau dan Jalur Pejalan Kaki untuk Wujudkan Kota Sehat

Pembangunan kota kini tidak lagi semata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Aspek kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian penting dalam perencanaan perkotaan.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya penyediaan ruang hijau dan fasilitas pedestrian sebagai bagian dari upaya membangun kota yang sehat. Menurutnya, konsep kota ramah pejalan kaki atau walkable city dapat meningkatkan kualitas hidup warga.

“Dengan banyak ruang hijau dan pedestrian, biaya kesehatan bisa ditekan,” kata Tito pada Rabu, 22 April 2026. Ia menilai investasi pada ruang hijau dan jalur pejalan kaki lebih murah dibandingkan biaya pengobatan masyarakat.

Tito mengingatkan agar pembangunan daerah mempertimbangkan dampak jangka panjang. Kesehatan dan kualitas hidup masyarakat, kata dia, harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan.

Konsep walkable city dinilai mendorong aktivitas berjalan kaki dan olahraga, sekaligus memperkuat interaksi sosial antarwarga melalui ruang publik. Dalam pandangannya, kota yang sehat juga berpotensi meningkatkan produktivitas masyarakat, sementara lingkungan yang nyaman turut mendukung aktivitas ekonomi.

Ia mencontohkan Singapura sebagai salah satu wilayah yang dinilai berhasil mengintegrasikan ruang hijau dalam tata kota. Tito juga menilai investasi ruang hijau memberikan manfaat ekonomi jangka panjang, termasuk menekan beban pembiayaan sektor kesehatan.

Selain itu, Mendagri menekankan perlunya menjaga keseimbangan pemanfaatan ruang kota. Ruang terbuka hijau harus dipertahankan sebagai penyangga lingkungan.

“Jangan semua ruang diubah menjadi kawasan komersial atau permukiman,” ucap Tito. Ia mengingatkan, berkurangnya ruang hijau dapat meningkatkan risiko banjir.

Menurut Tito, konsistensi kebijakan tata ruang menjadi kunci pembangunan berkelanjutan untuk mencegah kerusakan lingkungan dan ekosistem. Ia juga menyinggung Bandara Banyuwangi sebagai contoh pembangunan ramah lingkungan, yang memaksimalkan ventilasi alami dan efisiensi energi.

Ruang hijau, lanjutnya, memiliki fungsi penting sebagai area resapan air dan penjaga keseimbangan lingkungan perkotaan. Tanpa tata ruang yang baik, risiko banjir akan meningkat, termasuk akibat penyempitan sungai yang menjadi ancaman bagi kota.

Di akhir pernyataannya, Tito mengajak para kepala daerah memandang kota sebagai ruang hidup yang harus mendukung kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.