TUBAN – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di TK Bhayangkari Soko, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, mendapat sorotan dari sejumlah wali murid. Mereka mempertanyakan kualitas menu yang dibagikan serta meminta penjelasan yang lebih terbuka terkait pelaksanaannya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, paket MBG yang diterima siswa diketahui berasal dari dapur MBG yang berada di depan SMPN Sokosari, Kabupaten Tuban. Dalam satu paket, siswa memperoleh satu kotak susu kemasan 125 mililiter bertuliskan “Susu Sekolah, Susu Gratis Program MBG”, satu potong roti tabur kelapa dalam plastik kemasan, serta satu buah jeruk.
Komposisi tersebut memunculkan tanda tanya di kalangan orang tua. Sejumlah wali murid menilai menu yang dibagikan masih tergolong sederhana dan belum sepenuhnya mencerminkan pemenuhan gizi seimbang sebagaimana tujuan program pemenuhan nutrisi anak sekolah.
Dalam pedoman gizi seimbang, satu porsi ideal umumnya mencakup sumber karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, serta mineral yang proporsional. Selain itu, aspek kebersihan, keamanan pangan, dan kelayakan konsumsi juga dinilai penting dalam distribusi makanan bagi anak usia dini.
“Kalau memang anggarannya Rp15 ribu per anak, seharusnya bisa lebih variatif dan lengkap. Ini hanya susu kecil, roti, dan jeruk. Kami ingin ada penjelasan yang transparan,” ujar salah satu wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan, Senin (23/2/2026).
Selain komposisi menu, kondisi buah yang dibagikan juga menjadi perhatian. Beberapa wali murid mengaku menemukan bercak kehitaman pada kulit jeruk yang diterima anak-anak mereka. Meski belum dapat dipastikan apakah hal tersebut memengaruhi kualitas konsumsi, kekhawatiran tetap muncul.
Di tengah beredarnya informasi mengenai anggaran sebesar Rp15 ribu per anak, sejumlah wali murid mempertanyakan kesesuaian antara nilai tersebut dengan menu yang diterima siswa. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi yang memastikan apakah angka Rp15 ribu tersebut merupakan nominal pasti yang diterapkan dalam program MBG di wilayah Soko.
Minimnya informasi detail terkait standar biaya per porsi, komponen pengadaan bahan, hingga mekanisme distribusi dari dapur MBG ke sekolah mendorong orang tua meminta keterbukaan. Para wali murid menegaskan mereka mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak, tetapi berharap pelaksanaannya di lapangan sejalan dengan tujuan awal.
“Yang kami harapkan bukan sekadar gratis, tapi juga kualitas yang sesuai untuk tumbuh kembang anak. Kalau program ini baik, tentu kami dukung. Tapi harus jelas dan terbuka,” ungkap wali murid lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pengelola dapur MBG yang berada di depan SMPN Sokosari maupun pihak TK Bhayangkari Soko belum memberikan pernyataan resmi terkait standar menu dan besaran riil anggaran per porsi.

