Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di Sukoharjo menjadi sorotan setelah pihak penyedia layanan mencantumkan label harga pada flyer menu. Langkah ini disebut sebagai upaya meningkatkan transparansi sekaligus mengurangi potensi kecurigaan terkait kesesuaian anggaran.
Sugino menjelaskan, pencantuman harga mulai dilakukan setelah pihaknya mengikuti arahan dalam pertemuan daring bersama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, informasi harga diperlukan agar penerima manfaat, termasuk siswa, dapat memantau besaran biaya menu yang disediakan.
Dalam program MBG, kata Sugino, terdapat pembatasan harga berdasarkan porsi. Porsi kecil dipatok Rp8 ribu, sedangkan porsi besar Rp10 ribu. Ketentuan tersebut disesuaikan dengan standar kecukupan gizi pada tiap jenjang pendidikan.
Di SPPG PCM Baki, distribusi MBG disebut mencapai 2.825 porsi. Penyaluran mencakup 26 sekolah serta enam B2 atau posyandu yang menyasar balita dan ibu hamil.
Selama Ramadan, pola distribusi menu juga disesuaikan dengan kondisi kegiatan belajar mengajar (KBM) di masing-masing sekolah. Sugino menyebut tidak semua sekolah menjalankan aktivitas setiap hari, berbeda dengan pondok pesantren.
Untuk sekolah yang masuk pagi dan langsung pulang, menu kering dinilai lebih memungkinkan dikonsumsi. Sementara itu, jika sekolah mengadakan kegiatan buka puasa bersama, SPPG menyiapkan menu basah. Jadwal pengiriman makanan mengikuti jadwal KBM: bila pembelajaran berlangsung setiap hari, pengiriman juga dilakukan setiap hari.
Terkait kandungan gizi, Sugino memastikan setiap SPPG memiliki tim ahli gizi yang mengawasi kecukupan gizi sesuai kelompok sasaran, mulai dari balita hingga siswa SMA. Ia menegaskan standar kecukupan gizi berbeda untuk tiap jenjang.
Namun, masukan juga datang dari pihak sekolah. Kepala RA Sabilul Falah, Dina Sriyani, menyarankan agar susu tetap disertakan dalam menu Ramadan, terutama saat pembagian makanan kering, agar kecukupan gizi lebih maksimal.
Di sisi lain, Dina menilai pencantuman harga pada setiap menu dapat membantu masyarakat, khususnya orang tua atau wali murid penerima manfaat, menilai kesesuaian menu dengan anggaran yang disediakan pemerintah per hari.
Pencantuman label harga dalam flyer menu serta perhatian pada transparansi kandungan gizi kini menjadi bagian yang mendapat perhatian publik. Upaya ini dipandang penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan program MBG memenuhi standar gizi sesuai jenjang penerima manfaat.

