Opini: Mempertahankan Pernikahan Dinilai Tak Cukup Bertumpu pada Ekonomi

Opini: Mempertahankan Pernikahan Dinilai Tak Cukup Bertumpu pada Ekonomi

Pernikahan dinilai tidak bisa dipahami sebagai perjalanan singkat, melainkan proses panjang untuk membangun rumah tangga yang harmonis atau sakinah, mawadah, warahmah. Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan persiapan yang tidak sederhana.

Dalam pandangan penulis, faktor ekonomi kerap menjadi ketakutan bagi mereka yang belum menikah. Ada anggapan bahwa kondisi finansial yang belum stabil dapat berdampak buruk pada rumah tangga. Namun, penulis menilai kemapanan ekonomi tidak sepenuhnya menjamin pernikahan dapat bertahan lama.

Menurutnya, kelanggengan rumah tangga juga membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Ia menekankan pentingnya pembekalan pengetahuan pranikah bagi calon pasangan suami istri sebagai hal yang mutlak dilakukan.

Penulis menyinggung meningkatnya angka perceraian di kalangan aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Provinsi Aceh yang disebut mencapai 487 kasus sepanjang 2024. Ia menyebut penyebab perceraian tersebut rata-rata dipicu perselisihan yang terus-menerus antara suami dan istri hingga tidak menemukan titik damai.

Fakta itu, menurut penulis, memperlihatkan bahwa mempertahankan pernikahan tidak cukup hanya mengandalkan ekonomi yang mapan. Ia menilai banyak faktor lain yang turut menentukan, sehingga persiapan menikah perlu dilakukan secara matang, baik dari sisi moril maupun materil.

Penulis juga mengkritik kecenderungan sebagian orang yang terlalu fokus pada persiapan materil dan melupakan persiapan moril. Ia menilai kekokohan pondasi dan tujuan membangun rumah tangga sesuai ajaran agama menjadi penentu. Ia menambahkan, pemahaman agama yang dangkal disebut dapat menjadi salah satu sebab banyaknya kasus perceraian di Aceh.

Karena itu, ia mendorong adanya edukasi pernikahan sebelum menikah bagi anak muda. Tujuannya agar rumah tangga yang dibangun tidak mudah retak oleh persoalan yang sebenarnya memiliki banyak solusi.

Di sisi lain, penulis menyebut beberapa faktor yang membuat sebagian orang memilih menunda menikah, seperti tingginya harga emas, keinginan melanjutkan karier, dan pertimbangan ekonomi. Ia berharap tingginya angka perceraian tidak ikut menjadi faktor yang menurunkan minat orang untuk menikah, terlebih jika perceraian terjadi pada figur publik yang kerap dijadikan panutan.

Penulis juga menilai media memiliki peran dalam membentuk persepsi. Ia mengamati berita perceraian lebih mudah ditemukan dibandingkan kisah pasangan yang berhasil mempertahankan rumah tangga. Menurutnya, paparan berita perceraian dapat memengaruhi orang yang belum menikah, mulai dari munculnya keraguan hingga rasa takut untuk menikah.

Meski memuat berita perceraian dinilai sah-sah saja, penulis berpendapat pemberitaan semestinya juga diimbangi dengan kisah keberhasilan rumah tangga. Ia menilai angka perceraian masih lebih sedikit dibandingkan jumlah pasangan yang mampu mempertahankan rumah tangga hingga akhir hayat.