Pemerintah mulai memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pendekatan digital. Langkah ini ditujukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran, distribusi lebih efisien, serta seluruh proses dapat dipantau secara transparan.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan digitalisasi menjadi bagian penting dalam mengawal program andalan Presiden Prabowo tersebut, mulai dari tahap produksi hingga penyaluran kepada masyarakat penerima manfaat.
Menurut Meutya, sistem terintegrasi memungkinkan setiap tahapan pelaksanaan program dipantau secara lebih terukur. “Ini penting agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan, bukan sekadar tercatat dalam laporan,” ujarnya saat kunjungan kerja di Soreang, Sabtu, 25 April 2026.
Dengan pemanfaatan teknologi, pemerintah dapat memantau ketersediaan bahan pangan, menjaga kualitas produk, serta memastikan distribusi berjalan tepat waktu. Pengawasan yang sebelumnya cenderung manual diperkuat dengan data yang bergerak secara real time, sehingga potensi penyimpangan dapat diminimalkan sejak awal.
Digitalisasi juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi rantai logistik. Data yang terkumpul dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat, sekaligus memperkuat akuntabilitas pelaksanaan program di lapangan.
Di sisi lain, dampak penerapan sistem ini mulai terlihat pada sektor ekonomi lokal. Rantai pasok yang lebih tertata dinilai membuka peluang pasar bagi petani, peternak, dan pelaku usaha di daerah, sekaligus meningkatkan potensi penyerapan produksi pangan dalam negeri secara lebih berkelanjutan.
Meski demikian, Meutya menekankan penerapan teknologi harus mempertimbangkan kondisi di lapangan. Ia mengingatkan agar digitalisasi tidak menjadi beban baru bagi para pelaksana program.

