Presiden RI Prabowo Subianto dua kali menyampaikan klaim bahwa dari ratusan negara di dunia, warga Indonesia adalah yang paling bahagia. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam kesempatan terpisah.
Dalam klaimnya, Prabowo menyebut tingkat kebahagiaan warga Indonesia menempati posisi teratas dibanding negara-negara lain. Namun, dalam materi yang beredar tidak disertakan rujukan data atau survei yang menjadi dasar pernyataan tersebut.
Klaim itu muncul di tengah sejumlah pernyataan Prabowo terkait kondisi sosial dan kebijakan pemerintah. Pada peringatan Hari Buruh (May Day) di Monas, Jakarta, Jumat (1/5/2026), Prabowo juga menyinggung soal banyaknya orang pintar yang menurutnya tidak menggunakan kepintaran untuk hal positif. Ia mengatakan, “Semakin pintar, banyak yang pintar maling.”
Di kesempatan yang sama, Prabowo menyampaikan janji akan menurunkan potongan aplikator bagi pengemudi ojek online hingga di bawah 10 persen. Ia menilai tidak adil jika pengemudi yang bekerja keras di lapangan harus menyetor potongan besar kepada pemilik aplikasi.
Sementara itu, dalam agenda peresmian groundbreaking 13 proyek hilirisasi di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026), Prabowo menegaskan bahwa kekayaan Indonesia tidak boleh mengalir ke luar negeri dan harus dinikmati masyarakat. Ia juga menyatakan pemerintah berkomitmen mengalirkan kembali kekayaan negara kepada rakyat melalui program-program strategis, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), yang disebutnya memberi dampak bagi petani dan nelayan karena adanya kepastian pasar.
Hingga informasi ini disusun, tidak ada data pembanding yang dicantumkan dalam materi pernyataan Prabowo untuk mendukung klaim bahwa Indonesia merupakan negara paling bahagia di dunia. Klaim tersebut menjadi perhatian karena menyangkut gambaran kondisi kesejahteraan dan psikologis masyarakat secara luas.

