Royalti ARDI Turun Jadi Rp 25 Juta, Ikke Nurjanah Pertanyakan Dasar Perhitungan LMKN

Royalti ARDI Turun Jadi Rp 25 Juta, Ikke Nurjanah Pertanyakan Dasar Perhitungan LMKN

DEPOK — Ketua Anugrah Royalti Dangdut Indonesia (ARDI) Ikke Nurjanah mengaku terkejut dengan besaran royalti yang diterima ARDI pada periode pertama tahun ini. Ia menyebut ARDI hanya memperoleh Rp 25 juta untuk periode Januari hingga Juni, angka yang dinilai jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

"Untuk periode pertama, Januari sampai dengan Juni, kami diinformasikan mendapatkan Rp 25 juta dari total Rp 6 miliar yang didapat oleh LMKN sebagai hasil penarikan," kata Ikke saat ditemui di Soneta Record, Depok, Jawa Barat, Selasa (7/4/2026).

Ikke menambahkan, penurunan tersebut sangat kontras dengan penerimaan ARDI pada tahun lalu. "Angka Rp 25 juta itu membuat kami sangat terkejut, karena sebelumnya kami di ARDI mendapatkan Rp 1,5 miliar di tahun lalu," ujarnya.

Perbedaan signifikan itu, menurut Ikke, memunculkan pertanyaan dari ARDI dan anggotanya terkait dasar perhitungan distribusi royalti oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Ia menyatakan pihaknya tidak mengetahui proses yang melatarbelakangi angka Rp 25 juta tersebut.

"Jika sekarang hanya Rp 25 juta, bagaimana prosesnya, kami tidak tahu. Bagaimana kami mempertanggungjawabkan hal ini kepada anggota?" kata Ikke. Ia juga menyoroti bahwa ARDI tidak dilibatkan dalam proses hingga angka distribusi tersebut muncul di pertengahan tahun.

Ikke menuntut transparansi dari LMKN mengenai skema perhitungan yang digunakan. Ia mengaku hingga kini belum menerima penjelasan yang memadai serta tidak pernah diajak berdiskusi. "Masalah transparansi juga menjadi catatan. Kami belum mendapatkan transparansi tersebut. Kami ingin berprasangka baik, mungkin mereka akan memberi penjelasan, tetapi ini sudah masuk tahun 2025 dan belum ada sama sekali, serta kami tidak pernah diajak berdiskusi," ungkapnya.

Selain mempertanyakan mekanisme distribusi, Ikke menyampaikan ARDI telah mengirimkan surat penolakan atas jumlah royalti yang diterima. "Rp 25 juta itu kami melakukan surat penolakan," ujarnya.

Ia juga mengaku sudah berupaya membuka komunikasi langsung dengan LMKN, namun belum melihat tindak lanjut konkret. Menurutnya, pertemuan yang terjadi sejauh ini hanya berhenti pada pembicaraan tanpa pembahasan teknis lanjutan. "Jadi hanya sebatas verbal, tetapi secara teknis tidak pernah ada pembahasan lanjutan. Pokoknya keputusannya begini, terima," kata Ikke.

Ke depan, Ikke berharap ada respons yang lebih baik agar persoalan ini dapat segera diselesaikan. Ia menegaskan ARDI terbuka untuk berdialog dan tidak ingin memperkeruh situasi. "Padahal kita sangat terbuka karena tidak ingin ribut. Uangnya ada, datanya ada, kita juga ada, ya ngobrol lah. Kenapa jadi kita di sana, kamu di sini," ujarnya.