JAKARTA — Konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) kini tidak hanya dipandang sebagai standar keberlanjutan bisnis, tetapi juga berkembang menjadi strategi komunikasi korporasi yang penting untuk membangun transparansi dan kepercayaan publik. Perusahaan dinilai tidak cukup hanya menjalankan praktik berkelanjutan, melainkan juga perlu mengomunikasikannya secara terbuka melalui pelaporan ESG yang terukur dan akuntabel.
Secara umum, ESG merupakan kerangka penilaian kinerja perusahaan berdasarkan tiga aspek utama. Aspek lingkungan mencakup dampak operasional terhadap alam, seperti emisi dan pengelolaan limbah. Aspek sosial menyoroti relasi perusahaan dengan karyawan dan masyarakat. Sementara itu, tata kelola berkaitan dengan transparansi serta praktik manajemen perusahaan.
Dari perspektif kehumasan, ESG tidak berhenti pada pelaksanaan program. Perhatian juga tertuju pada bagaimana perusahaan menyampaikan dampak keberlanjutan kepada para pemangku kepentingan. Dalam konteks ini, pelaporan ESG disebut berperan sebagai alat komunikasi berbasis data.
Digital Marketing Manager CEMAsys.com, perusahaan konsultan yang bergerak di bidang pelaporan ESG, Frida Rudbo menyampaikan bahwa pelaporan ESG merupakan proses pengungkapan informasi terkait kinerja perusahaan pada tiga aspek tersebut. Tujuannya untuk memberikan gambaran mengenai risiko, peluang, serta capaian yang relevan bagi investor dan publik.
Menurut Frida, pelaporan ESG tidak hanya berfokus pada angka keuangan, tetapi juga menyajikan gambaran yang lebih luas tentang dampak aktivitas bisnis terhadap lingkungan dan masyarakat. Ia menilai, publikasi laporan ESG memungkinkan perusahaan mengomunikasikan inisiatif keberlanjutan dan tanggung jawabnya kepada para pemangku kepentingan.
Frida juga menekankan bahwa pelaporan ESG semakin memegang peranan penting di perusahaan karena pada dasarnya memuat informasi tentang operasional dan risiko terkait tanggung jawab lingkungan, sosial, serta tata kelola. Ia menyebut transparansi tersebut dapat menjadi informasi bernilai bagi investor dan sekaligus memberi inspirasi bagi organisasi lain di bidang yang sama.
Penekanan pada pentingnya komunikasi ESG juga sejalan dengan temuan riset Nadine Straus dkk. berjudul ESG Communication as a Strategic Public Relations Function: A Framework for Excellence (2025). Riset itu menyebut komunikasi ESG telah berkembang menjadi fungsi strategis dalam public relations (PR), tidak lagi sekadar laporan, melainkan bagian integral dari strategi komunikasi korporasi yang mencakup keterlibatan pemangku kepentingan, manajemen isu, hingga komunikasi krisis.
Penelitian tersebut turut mencatat bahwa meningkatnya tuntutan transparansi dan maraknya tuduhan greenwashing mendorong perusahaan mengelola komunikasi ESG secara lebih kredibel dan terintegrasi di seluruh organisasi. Temuan riset itu menilai komunikasi yang tidak berbasis data berisiko merusak reputasi, sedangkan pendekatan yang transparan dan konsisten dapat memperkuat nilai perusahaan di mata investor.
Lebih lanjut, riset tersebut juga menempatkan ESG sebagai bagian penting dalam komunikasi korporasi dan keuangan. Perusahaan yang aktif melaporkan serta mengomunikasikan kinerja ESG disebut berpotensi meningkatkan kualitas manajemen, memperkuat pengelolaan risiko, serta mendorong nilai perusahaan dan kepercayaan pemegang saham.

