Transparansi Kondisi Kendaraan Dinilai Jadi Tantangan Utama Transaksi Mobil Bekas di Indonesia

Transparansi Kondisi Kendaraan Dinilai Jadi Tantangan Utama Transaksi Mobil Bekas di Indonesia

JAKARTA — Di tengah maraknya platform jual beli mobil bekas, kekhawatiran konsumen terhadap kondisi kendaraan disebut masih kuat. Kejelasan informasi menjadi faktor penting yang kerap dipertanyakan sebelum transaksi dilakukan.

Pemilik Otospector, Jeffrey Andika, menilai persoalan utama dalam pembelian mobil bekas di Indonesia bukan semata soal harga, melainkan transparansi kondisi kendaraan.

“Masalah pertama beli mobil bekas di Indonesia itu transparansi kondisi,” ujar Jeffrey di Jakarta Utara, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, ada tiga aspek yang paling sering menjadi perhatian konsumen, yakni riwayat kecelakaan, bekas banjir, serta kondisi mesin. Menurutnya, ketiga hal tersebut tidak selalu diungkap secara menyeluruh sehingga memicu keraguan saat proses pembelian.

“Fokus inspeksi kita itu tiga poin: bekas tabrakan, bekas banjir, sama mesin bermasalah,” kata Jeffrey.

Jeffrey menyebut kepastian mengenai kondisi tersebut menjadi dasar penting agar konsumen merasa lebih aman dan yakin dalam mengambil keputusan.

Selain kondisi kendaraan, ia juga menyoroti persoalan harga yang kerap membingungkan. Dalam sejumlah kasus, angka yang tercantum dalam iklan tidak selalu mencerminkan nilai transaksi sebenarnya.

“Harga yang di sini sudah dipastikan harga cash, jadi enggak mungkin user lihat harga tapi ternyata itu skema lain,” ujarnya.

Ia turut mengingatkan potensi risiko dalam transaksi langsung antarindividu. Menurutnya, proses verifikasi dan aspek legalitas kendaraan dalam transaksi perorangan cenderung lebih lemah dibandingkan melalui showroom.

“Penipuan biasanya terjadi di perorangan, jarang terjadi di showroom,” kata dia.

Di sisi lain, pasar mobil bekas disebut tengah menghadapi tekanan. Jeffrey menilai tahun 2025 menjadi periode yang cukup menantang seiring menurunnya minat beli yang berdampak pada jumlah transaksi.

“Yang beli menurun, otomatis transaksi ikut turun,” ujarnya.

Tekanan juga datang dari semakin beragamnya pilihan kendaraan baru, termasuk mobil listrik dengan harga yang dinilai semakin kompetitif. Kondisi ini membuat konsumen memiliki alternatif lain di luar mobil bekas.

“Konsumen sekarang punya pilihan baru. Ngapain beli mobil bekas mahal kalau bisa beli baru dengan harga mirip,” ucapnya.

Dalam situasi tersebut, keterbukaan informasi dinilai menjadi salah satu faktor yang semakin menentukan untuk menarik minat konsumen di pasar mobil bekas.