Video Viral Klaim Trump Hentikan Pidato karena Takbir Ternyata Rekayasa Audio

Video Viral Klaim Trump Hentikan Pidato karena Takbir Ternyata Rekayasa Audio

Sebuah video pendek yang beredar di Instagram pada 17 Februari 2026 mengklaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghentikan pidatonya setelah terdengar teriakan “Allahu Akbar”. Dalam klip berdurasi 11 detik itu, suasana pidato tampak berubah mendadak dan Trump terlihat kebingungan sebelum dikerumuni sejumlah pengawal berjas hitam di atas podium.

Unggahan tersebut menarik perhatian warganet, dengan catatan 148.500 suka dan 5.500 komentar. Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan klaim itu tidak sesuai dengan peristiwa aslinya.

Verifikasi dilakukan dengan penelusuran gambar terbalik dan pencarian pada berbagai sumber pemberitaan. Hasilnya, audio pada video yang beredar diketahui telah dimodifikasi sehingga menimbulkan kesan seolah-olah Trump menghentikan pidato karena mendengar takbir.

Penelusuran melalui alat pencarian gambar terbalik Google mengarah pada peristiwa yang sebenarnya terjadi pada 12 Maret 2016 di Dayton, Ohio. Saat itu, Trump masih berkampanye sebagai kandidat presiden dari Partai Republik di sebuah hanggar pesawat.

Dalam kejadian asli, Trump tampak tersentak di penghujung pidato setelah mendengar suara dari arah penonton yang berdiri di belakangnya. Sekelompok pengawal kemudian bergegas naik ke panggung dan membentuk lingkaran untuk melindunginya.

Anggota tim kampanye Trump, Hope Hicks, menyatakan seorang pria menerobos zona pengamanan, sebagaimana dilaporkan PBS News. Petugas keamanan segera meringkus pria tersebut, dan Trump kemudian melanjutkan pidatonya.

Otoritas setempat mengidentifikasi penyusup itu sebagai Thomas Dimassimo. Ia didakwa atas pelanggaran ketertiban umum, didenda 250 dolar Amerika Serikat, serta dijatuhi masa percobaan selama satu tahun.

Sehari setelah kejadian, Trump menulis di akun X pada 13 Maret 2016 dan menyebut penyusup itu sebagai anggota ISIS. Namun, Thomas Dimassimo membantah tuduhan tersebut dalam wawancara dengan CNN dan menyebut Trump sebagai pengganggu.