ALUDI: Tata Kelola dan Transparansi Jadi Fondasi Pertumbuhan Securities Crowdfunding

ALUDI: Tata Kelola dan Transparansi Jadi Fondasi Pertumbuhan Securities Crowdfunding

JAKARTA—Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) menegaskan tata kelola dan transparansi sebagai fondasi utama untuk mendorong pertumbuhan industri Securities Crowdfunding (SCF) di Indonesia. Penekanan itu disampaikan dalam forum SCF Days 2026: Governance to Growth in the Capital Market di IDX Tower 1, Selasa (5/5/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian dan volatilitas tinggi. Dalam situasi itu, industri keuangan dinilai perlu semakin akuntabel, transparan, dan berkelanjutan dalam menjalankan operasionalnya.

SCF disebut kian relevan sebagai alternatif pembiayaan, terutama bagi sektor riil dan pelaku UMKM. Skema ini dinilai dapat memperluas akses pendanaan secara lebih inklusif sekaligus membuka peluang investasi bagi masyarakat luas.

Dalam forum tersebut, para pemangku kepentingan menekankan bahwa pertumbuhan SCF tidak semestinya hanya berfokus pada peningkatan volume pendanaan. Kualitas tata kelola serta integritas platform dipandang menjadi penentu keberlanjutan industri.

Wakil Ketua Umum I ALUDI sekaligus CEO Bizhare, Heinrich Vincent, mengatakan SCF perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pasar modal yang sehat. Menurutnya, SCF bukan sekadar platform digital, melainkan solusi pembiayaan produktif berbasis sektor riil.

“SCF menjadi relevan di tengah kondisi ekonomi saat ini, karena berbasis pada sektor riil dan memberikan kesempatan bagi pemodal untuk memperoleh keuntungan dari bisnis dan proyek yang terbukti menguntungkan, sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Vincent.

Vincent menambahkan, pertumbuhan industri SCF perlu disertai tata kelola yang kuat, transparansi yang konsisten, serta proses seleksi penerbit yang disiplin agar risiko dapat diminimalkan dan kepercayaan pemodal tetap terjaga. Ia juga mengingatkan pemodal untuk lebih cermat memilih proyek investasi melalui platform SCF, antara lain dengan menilai kualitas bisnis, arus kas, rekam jejak manajemen, dan prospek pertumbuhan usaha.

Menurut Vincent, sektor kendaraan listrik, kebutuhan pokok, serta proyek berbasis supply chain dinilai memiliki prospek menjanjikan. Ia menekankan pendekatan berbasis kualitas lebih penting dibanding sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pendanaan.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina ALUDI sekaligus ekonom senior, Prof. Wimboh Santoso, menilai SCF merupakan bagian dari transformasi pasar modal yang lebih inklusif. Ia menekankan pentingnya standardisasi tata kelola untuk menjaga arah pertumbuhan industri.

“SCF ini bukan sekadar inovasi digital, tetapi bagian dari evolusi pasar modal yang membuka akses lebih luas bagi masyarakat. Oleh karena itu, kita membutuhkan standardisasi tata kelola yang kuat dan disiplin agar industri ini tumbuh sehat, kredibel, dan mampu menjaga kepercayaan pemodal dalam jangka panjang,” kata Wimboh.

Dari sisi regulator, Direktur Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muhammad Adi Wijoyo menegaskan penguatan fungsi pengawasan menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas industri SCF. Menurutnya, keberlangsungan industri sangat bergantung pada terciptanya ekosistem yang sehat, transparan, dan berintegritas.