Asap tipis yang kerap muncul dari sudut-sudut permukiman pada sore hari menjelang Maghrib sering dianggap sebagai bagian dari rutinitas membersihkan halaman. Namun, di balik praktik pembakaran sampah rumah tangga, tersimpan persoalan lingkungan, kesehatan, dan sosial yang lebih rumit serta tidak dapat diselesaikan dengan solusi tunggal.
Situasi darurat sampah yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia mencerminkan ketimpangan antara pertumbuhan populasi dan intensitas konsumsi dengan kapasitas infrastruktur pengelolaan sampah. Di tingkat rumah tangga, meningkatnya penggunaan plastik sekali pakai memperparah persoalan. Sampah plastik yang sulit terurai kerap berakhir dibakar, sehingga menambah beban pencemaran udara di kawasan permukiman.
Tenaga Ahli Antropologi program FIREFLIES dari Universitas Indonesia, Sofyan Ansori, mengatakan perilaku membakar sampah tidak bisa dilepaskan dari konstruksi sosial yang telah terbentuk sejak lama. Ia mencontohkan pengalamannya saat tinggal di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, ketika membakar sampah justru dipandang sebagai tanda kerajinan dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Dulu, waktu saya tinggal di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, membakar sampah justru dianggap sebagai tanda kerajinan dan kepedulian lingkungan,” ujar Sofyan di Jakarta, Rabu (4/2/2026). Menurutnya, pada masa itu, warga yang rajin menyapu dan membakar sampah sebelum berangkat shalat Maghrib dipersepsikan sebagai warga yang bertanggung jawab.
Seiring perubahan jenis sampah dari dominan organik menjadi plastik dan bahan sintetis, makna sosial pembakaran sampah pun bergeser. Praktik ini kini semakin dipandang sebagai sumber pencemaran. Meski begitu, sebagian masyarakat masih mempertahankannya sebagai bentuk “kepedulian” terhadap kebersihan lingkungan.
Sofyan menekankan, upaya mengubah perilaku tersebut harus berangkat dari konteks lokal. Di Srengseng Sawah, misalnya, kondisi topografi yang berbukit dan jalan yang menyerupai labirin menyulitkan akses pengangkutan sampah. Keterbatasan armada, pengelolaan yang tidak merata, serta persoalan iuran sampah yang kerap memicu konflik antarwarga turut mendorong praktik pembakaran.
“Dalam riset kami, ditemukan lebih dari 10 titik pembakaran sampah aktif. Itu bukan semata karena warga bandel, tapi karena sistemnya memang tidak mendukung,” kata Sofyan.
Penelitian di Jakarta, Depok, dan sejumlah daerah lain menunjukkan alasan warga membakar sampah cenderung seragam: menjaga kebersihan, menghilangkan sampah yang sulit terurai, dan kondisi tempat penampungan yang penuh. Bahkan di kawasan perumahan klaster dengan iuran sampah tinggi, kesadaran lingkungan tidak selalu lebih baik.
Selain faktor sistem, terdapat pula dimensi emosional dan sensorial yang kerap luput dibahas. Bau menyengat, pandangan yang terganggu, hingga rasa jengkel terhadap perilaku tetangga dapat memicu tindakan membakar sampah. Frustrasi sosial ini kadang tampak melalui pesan-pesan bernada moral, bahkan religius, yang dipasang di sekitar lokasi pembuangan.
“Spanduknya bukan sekadar larangan, tapi sudah menyentuh aspek dosa dan etika. Itu menunjukkan betapa kuatnya emosi dalam persoalan sampah,” ujar Sofyan.
Rangkaian persoalan ini mengindikasikan bahwa kebijakan dan teknologi saja tidak cukup. Diperlukan keterlibatan aktif warga, pendekatan berbasis konteks lokal, serta sistem pendukung agar perubahan perilaku dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Dietplastik Indonesia dengan dukungan Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) meluncurkan program FIREFLIES (Fostering Innovation, Research, and Engagement for Fire-Free Living through Inclusive Education and Solutions). Program ini ditujukan untuk membangun sistem pengawasan dan pelaporan berbasis warga, memperkuat kapasitas pengelolaan sampah dari sumbernya, serta mendorong perubahan norma sosial menuju praktik hidup tanpa pembakaran sampah.
Dari sisi kesehatan, Tenaga Ahli Kesehatan Lingkungan FIREFLIES dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, mengingatkan bahwa dampak pembakaran sampah tidak berhenti pada iritasi ringan. “Partikel polusi dari pembakaran sampah bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, paru-paru, kulit, darah, hingga tulang. Jika dibiarkan, polusi udara menjadi silent killer,” kata Budi. Ia menekankan pengelolaan sampah yang tepat berperan langsung dalam menurunkan risiko penyakit akibat polusi udara.
Sementara dari perspektif iklim, Tenaga Ahli Kualitas Udara FIREFLIES dari Institut Teknologi Nasional Bandung, Didin Agustian Permadi, menyoroti kontribusi pembakaran sampah terhadap peningkatan emisi super pollutants seperti black carbon. “Pembakaran sampah di permukiman meningkatkan PM2,5 yang berdampak langsung pada kesehatan dan pemanasan global. Jika sumber emisi ini bisa ditekan, kualitas udara dan iklim bisa membaik secara signifikan,” ujar Didin.
Pada akhirnya, pembakaran sampah bukan semata soal asap dan bau. Praktik ini juga menjadi potret hubungan manusia dengan lingkungannya—tentang sistem yang timpang, emosi yang mengendap, serta kebutuhan akan solusi yang berpihak pada realitas sehari-hari warga. Mengubahnya bukan perkara mudah, tetapi perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

