Gerakan mahasiswa kembali menjadi sorotan dalam dinamika politik nasional. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto menantang Presiden Prabowo Subianto untuk hadir dalam debat terbuka di hadapan mahasiswa UGM.
Tantangan tersebut disampaikan Tiyo saat menjadi narasumber di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, sebagaimana dilaporkan tvOne News. Ia menilai banyak kebijakan pemerintah saat ini lebih didominasi dialog internal, sementara ruang dialektika atau uji publik secara langsung dinilai belum memadai. Menurutnya, debat terbuka di kampus dapat menjadi wadah pertukaran gagasan antara pemerintah dan komunitas akademik.
Tiyo menyatakan kehadiran presiden dalam forum terbuka seperti debat dapat membantu memperjelas sekaligus menguji kebijakan publik secara transparan di hadapan mahasiswa dan masyarakat luas.
Permintaan debat itu memunculkan beragam tanggapan. Mengutip netralnews.com, sebagian pihak menilai langkah tersebut sebagai bentuk partisipasi aktif mahasiswa dalam demokrasi sekaligus wujud peran moral untuk mengawal kebijakan publik. Namun, kritik juga muncul yang menyebut inisiatif tersebut berpotensi menjadi sensasi politik atau sekadar pencitraan tanpa tujuan yang konstruktif dan fungsional.
Sebelumnya, Tiyo juga telah menyampaikan sejumlah kritik terhadap pemerintah, termasuk kritik keras atas beberapa kebijakan serta langkah formal berupa pengiriman surat kepada lembaga internasional terkait kasus sosial.
Di tengah sorotan publik, Tiyo sempat meminta maaf kepada Presiden Prabowo setelah menggunakan kata-kata yang dinilai terlalu tajam dalam kritiknya. Ia menegaskan ajakan debat itu bukan untuk menyerang secara personal, melainkan membuka ruang dialog langsung antara pemerintah dan mahasiswa.
Situasi turut berkembang setelah Tiyo dan sejumlah pengurus BEM UGM mengaku menerima berbagai bentuk intimidasi usai menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Hal ini kemudian memicu diskusi lebih luas tentang kebebasan akademik di kampus, termasuk pentingnya ruang yang aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dalam sistem demokrasi.

