PALU — Kelompok seni Bengkel Seni Budaya (BSB) Universitas Tadulako terus mempertahankan eksistensinya sebagai wadah kreatif mahasiswa dengan menghadirkan inovasi dalam karya seni pertunjukan hingga 2026. Salah satu strategi yang dilakukan adalah mengangkat isu-isu sosial yang tengah ramai dibicarakan untuk diolah menjadi karya.
Pengurus inti BSB, Kirana, mengatakan kelompoknya kerap menjadikan isu viral sebagai bahan garapan seni sekaligus ruang bagi anggota untuk menciptakan karya yang kemudian ditampilkan dalam acara tahunan BSB.
Menurutnya, seni tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga dapat menjadi media komunikasi yang kuat untuk merespons fenomena yang terjadi di masyarakat.
Salah satu contoh yang diangkat adalah garapan tari bertema bullying atau perundungan. Karya tersebut dibuat sebagai respons pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan. Pesan sosial dalam pertunjukan disampaikan bukan melalui kata-kata, melainkan lewat visualisasi gerak yang emosional.
Michael, salah satu anggota BSB, menuturkan pesan sosial dalam garapan itu diupayakan sampai kepada penonton melalui keindahan gerak. BSB juga berusaha menyentuh empati audiens dengan menggambarkan sisi gelap dampak perundungan, mulai dari perasaan tertekan hingga jeritan batin korban.
Melalui kemasan kreatif serta pemanfaatan media sosial, BSB berharap pesan-pesan tersebut dapat menjangkau generasi muda dengan cara yang lebih halus namun tetap mendalam.

