Bizhare Perkuat Kurasi dan Transparansi untuk Dorong Pertumbuhan Securities Crowdfunding

Bizhare Perkuat Kurasi dan Transparansi untuk Dorong Pertumbuhan Securities Crowdfunding

JAKARTA—Platform securities crowdfunding (SCF) Bizhare menyatakan terus memperkuat posisinya di industri SCF Indonesia dengan menghadirkan pilihan investasi sektor riil yang lebih terkurasi dan transparan. Langkah ini ditujukan untuk menjembatani investor dengan bisnis yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan sekaligus dampak bagi perekonomian nasional.

Bizhare menyebutkan model investasinya menghubungkan investor ritel, high net worth individual (HNWI), hingga institusi dengan peluang investasi yang telah melalui proses seleksi. Di tengah kondisi ekonomi global yang masih fluktuatif, perusahaan menilai strategi investasi berbasis kualitas semakin dibutuhkan dan meresponsnya dengan menempatkan tata kelola, transparansi, serta teknologi sebagai fondasi pengembangan platform.

Dalam penawarannya, Bizhare menghadirkan sejumlah skema investasi, mulai dari saham bisnis dengan merek kuat hingga instrumen obligasi dan sukuk. Perusahaan menyatakan setiap pilihan dirancang dengan mempertimbangkan rekam jejak, performa historis, serta potensi imbal hasil yang kompetitif.

Ekonom sekaligus mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan periode 2017–2022, Prof. Wimboh Santoso, menekankan pentingnya menjaga kualitas pertumbuhan industri SCF. Menurutnya, perkembangan sektor ini perlu diimbangi tata kelola yang disiplin agar tetap kredibel di mata investor.

“SCF ini bukan sekadar inovasi digital, tetapi bagian dari evolusi pasar modal yang membuka akses lebih luas bagi masyarakat. Oleh karena itu, kita membutuhkan standardisasi tata kelola yang kuat dan disiplin agar industri ini tumbuh sehat, kredibel, dan mampu menjaga kepercayaan pemodal dalam jangka panjang,” ujar Wimboh saat ditemui dalam acara SCF Days 2026: Governance to Growth for Securities Crowdfunding in The Capital Market Industry di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Wimboh juga menyoroti peran Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) sebagai penghubung regulator, pelaku industri, dan masyarakat. Ia menilai standardisasi, edukasi, serta penerapan kode etik dapat mendorong industri SCF berkembang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Founder dan CEO Bizhare, Heinrich Vincent, menyatakan arah investasi sektor riil ke depan akan sangat dipengaruhi kekuatan proses kurasi dan tingkat kepercayaan yang dibangun dalam ekosistem investasi. Ia menilai investor semakin selektif, tidak semata berfokus pada potensi keuntungan, tetapi juga pada kualitas fundamental bisnis yang ditawarkan.

“Investor sekarang jauh lebih selektif. Mereka tidak hanya mencari return, tetapi juga ingin memastikan bisnis yang mereka danai benar-benar memiliki fondasi yang sehat, dikelola secara profesional, dan bisa bertahan dalam jangka panjang. Di Bizhare, kami berkomitmen menghadirkan proses kurasi yang ketat agar setiap peluang investasi sektor riil yang masuk ke platform benar-benar memiliki kualitas dan nilai tambah yang jelas bagi investor,” kata Vincent.

Untuk memperkuat ekosistem investasi sektor riil, Bizhare menyusun tiga fokus utama, yakni peningkatan kualitas penerbit, penguatan transparansi kepada investor, serta perluasan akses investasi agar menjangkau lebih banyak segmen masyarakat tanpa mengurangi standar kredibilitas.

“Kami ingin memastikan bahwa penguatan kualitas penerbit, keterbukaan informasi, dan perluasan akses investasi berjalan beriringan, sehingga Bizhare tetap menjadi platform yang kredibel sekaligus inklusif bagi seluruh lapisan investor,” ujar Vincent.

Dari sisi teknologi, Chief Technology & Operation Bizhare, Giovanni Umboh, menyampaikan industri SCF bergerak menuju integrasi ekosistem yang lebih solid dan terstruktur. Salah satu inisiatif yang disiapkan adalah peluncuran SCF Net yang disebut akan terkoneksi dengan sistem Kustodian Sentral Efek Indonesia untuk memperkuat infrastruktur pasar.